Tahun 2000
Malam minggu memang menjadi malam Yang paling ditunggu-tunggu oleh Rawi, anak berusia 11 tahun. Hanya Di waktu itulah, dia bisa bermain bersama teman-temannya Yang lain. Meski tetap diberlakukan jam Malam oleh bapaknya.
Anak-anak yang lahir tahun 89-90an, Masih bisa menikmati serunya permainan traditional. Seperti main lompat karet, petak umpet, kejar-kejaran, sampai bercerita cerita horor.
Malam itu semua teman Rawi keluar untuk bermain, kecuali Fivi. Entah kenapa, rumahnya pun gelap gulita, mungkin sedang pergi ke Rumah Neneknya.
Pukul 21.00 WIB, Rawi berpamit pulang. Dia tidak mau sampai lewat Dari jam itu. Karena pernah suatu Hari Rawi pulang ke Rumah 21.10 WIB. Tapi pintu Rumah Sudah dikunci Sama bapaknya. Meskipun akhirnya pintu dibukakan, tapi dia tidak mau sampai mengalami kejadian itu lagi. Bapaknya memang orang Yang tegas Dan keras.
Sampai Di Rumah, Ibu Rawi tiba-tiba memanggil.
"Wi, tolong beliin terigu ya, ke warung bulek. Ibu lupa beli, terigunya habis."
Kebetulan memang ibunya Rawi setiap harinya membuat kue Dan gorengan, untuk dititipkan ke warung-warung Di pagi Hari.
Dengan sedikit berat Hati Karena Sudah lelah bermain juga, Rawi menuruti perintah ibunya. Dia berjalan sedikit cepat menuju warung, Yang letaknya selisih 5 Rumah Dari rumahnya. Beruntung warung bulek Belum tutup.
Setelah mendapatkan pesanan Ibu, dengan setengah berlari, Rawi pulang menuju rumahnya. Sampai Di pertengahan jalan, Saat melintasi Rumah Fivi...
"Rawi!!" Terdengar suara keras Fivi memanggil Rawi.
Rawi berhenti seketika Tanpa menjawab.
'Fivi manggil?' katanya Dalam hati. 'Kenapa ya? Ah, pasti mau ngerjain gw.'
Rawi tersenyum-senyum tipis mengetahui rencana Fivi yang ingin mengerjainya. Dia mencari sumber suara Yang tadi memanggilnya.
'Ngumpet dimana ni anak? Eh, tapi kok sepi yaa.. gelap banget lagi.'
Senyum Rawi mulai memudar, seiring dengan sadarnya dia Akan sesuatu.
'tunggu, Fivi Kan tadi ga main. Katanya lagi pergi ke Rumah Neneknya. Terus.., Yang tadi manggil gue Siapa dong?!'
Tanpa pikir panjang Rawi langsung mengambil langkah seribu menuju rumahnya. Dia langsung masuk, Dan mengunci pintu Rumah.
Rawi bersyukur, Malam itu dia tidak melihat hal-hal aneh. Meski Masih menjadi misteri Dalam benaknya, 'Tadi gue jelas banget denger, itu suaranya Fivi. Tapi Kan Fivi lagi pergi. Jadi tadi itu, Siapa Yang manggil?'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar