Kamis, 22 September 2016

LIMA PERTEMUAN


Awal sebuah kisah cinta tidak selamanya indah. Berkenalan, berteman, lalu pacaran. Hang out, nonton bareng, semua itu tidak aku lalui. Prosesnya pun bisa lama, atau sebentar. Bisa dengan kenalan lama, atau bahkan orang yang belum kenal. Intinya cinta itu penuh dengan misteri. Bahkan aku pun dibuat tidak percaya, bahwa lima kali pertemuan dengannya, adalah awal kisah cintaku.



PERTEMUAN 1

Sore ini, aku duduk termenung menatap suasana kampus yang mulai sedikit gelap. Sambil menimang-nimang buku yang ada di tanganku. Ditolak lagi. Revisi kelima makalah skripsiku. Hahhh, aku menghela nafas berat. Harus bagaimana lagi? Pikirku.

“Broo, bengong aja. Kenapa?” Tiba-tiba Bagas, sahabat baikku sekaligus teman kosku, membuyarkan lamunanku.

“Biasalah,” jawabku singkat.

“Lagi?” ujar Bagas yang sepertinya sudah tahu arah pembicaraanku. Dia menyodorkan minuman soda kaleng favoritku. Aku hanya mengangguk lemas sambil menerima minuman itu. “Kayaknya tu dosen ada masalah sama lo Yo. Gila kali, udah revisi kelima lho,” lanjutnya.

“Tau deh. Gue juga udah setengah mampus ngerjain ni skripsi, masih aja salah. Bingung gue,” kataku. Aku memutar-mutar soda kaleng dari Bagas, seperti berharap bisa menemukan solusi terbaik di dalamnya.

“Ya udahlah sob, ntar gue bantu coba cari solusinya oke?” Bagas melihat handphonenya, “mampus gue!! Gue lupa, gue ada janji sama Vita. Bisa dibunuh gue ni,” ujarnya seraya menepuk jidatnya. “Gue cabut dulu ya, ntar kita omongin lagi di kosan.” Lanjutnya yang kemudian setengah berlari meninggalkanku.

Aku hanya tersenyum tipis, tanpa memalingkan wajahku dari soda kaleng di tanganku. Tiba-tiba.. BRAKKK!! Terdengar suara benturan dari arah belakangku. Aku menengok ke belakang. Terlihat seorang wanita, tidak terlalu tinggi, tidak terlalu putih, dengan potongan rambut klasik sebahu. Ia memandang ke arah buku-bukunya yang berantakan di jalan. Beberapa meter dari tempatnya berdiri, terlihat Bagas yang setengah berlari meneriakkan sesuatu pada wanita itu.

“Sorry Mba, saya buru-buru. Sorry banget, udah telat ni, bisa mati saya. Sorry ya!!” ujar Bagas.

Heh, tu anak, ada aja bikin masalah, pikirku. Aku berjalan menuju wanita itu, yang kini tengah mengumpulkan buku-bukunya. Rona kesal terpancar di wajahnya. Abislah gue yang dimaki-maki kayaknya, pikirku.

Aku jongkok di hadapannya. Membantunya merapikan buku-bukunya. Ia hanya memandangku sesaat.

“Maaf ya mba, itu tadi temen saya. Dia lagi ada deadline, jadi buru-buru. Kalo telat dikit, bisa mati dia dibunuh sama bosnya.” Ujarku sekenanya. Yang penting ada omongin dulu lah, dimarahin atau enggak urusan nanti, pikirku. Wanita itu tak bersuara, aku pun tak berani menatapnya. “Sebagai gantinya, sekarang kan saya udah bantuin mbak, jadi tolong dimaafin ya?” lanjutku. Tapi wanita itu tetap diam, tanpa menggubrisku. Aku juga masih tak berani memandangnya.

Lalu aku menyerahkan 3 buku yang aku bereskan kepadanya. Mata kami tanpa sengaja saling bertemu. Aku terdiam, masih menatapnya. Tapi ia buru-buru mengalihkan pandangannya.

“Terima kasih ya mas,” ujarnya singkat. Lalu ia pergi. Aku masih terdiam. Terpaku tak bergeming. Apa itu tadi? Pikirku. Aku salah, itu tadi bukan wajah orang yang sedang emosi. Wajahnya seperti menyiratkan kesedihan, dan beban yang begitu berat.
Aku menengok mencari kemana wanita itu pergi. Fakultas ekonomi, batinku.

Jam 21.34.
Aku sampai di tempat Kos. Saat masuk, sekilas aku melihat lampu kamar Bagas sudah menyala. Kamar Bagas bersebelahan dengan kamarku. Kamarku terletak paling ujung, jadi aku pasti melewati kamar Bagas untuk sampai ke kamarku. Baru aku membuka pintu kamar, Bagas muncul dari dalam kamarnya.

“Baru pulang Yo?” ujarnya. Aku mengangguk ringan. Lalu aku masuk ke kamar, diikuti Bagas di belakangku. “Lama bener lo di kampus?”

Aku meletakkan barang bawaanku di atas meja belajar. “Apa sih lo Gas, kayak orang pacaran aja,”kataku bercanda.

“Helloooo Aryo, cewek di dunia ini belum punah bung, ogah gue ma lo”, jawabnya. Aku tertawa mendengarnya. Tapi Bagas malah mengernyitkan keningnya. “Sehat kan lo?”

“Apaan sih? Lo liat sendiri kan gue sehat walafiat”, jawabku kalem.

“Enggak, enggak, ni ada yang aneh ni”, katanya, “tadi, tu muka paspasan lo, berani sumpah, kayak orang di ujung maut tau enggak. Tapi sekarang..., lo ketawa bro. Lo ga apa-apa kan bro?”

“Yahh, upil satu ini. Sehat gue Gas. Apa perlu gue bikin surat keterangan dari dokter.”

“Kalau gitu, pasti ada sesuatu ni. Cerita coba”, desaknya. Bagas memang orang yang paling tahu bagaimana aku. Saat aku punya masalah, saat aku senang, saat aku berbohong, dia pasti tahu. Dialah sahabat terbaikku.

Aku memutar memoryku ke kejadian tadi sore. Ya, pertemuan dengan wanita tadi. Tidak ada yang spesial di wajahnya, ataupun pada bodynya. Hanya saja, ekspresi sendunya, selalu berputar-putar diingatanku. Entah kenapa, rasanya hatiku berdebar. Aku ingin merangkulnya, sekedar untuk mengurangi beban dalam hidupnya. Aku menceritakan semuanya pada Bagas. Bagas yang mendengar ceritaku dengan seksama, hanya terdiam dan memgedipkan matanya saat aku selesai bercerita.

“Jadi lo jatuh cinta?” ujarnya.
“Ya enggaklah Gas, masa iya jatuh cinta”, bantahku.
“Terus?” lanjut Bagas. Aku yang kemudian terdiam. Mencari kondisi yang lebih tepat dari dugaan Bagas. Tapi sepertinya nihil. Apa aku benar telah jatuh cinta? Pikirku.



PERTEMUAN 2

Pagi hari ini begitu cerah. Berbeda dengan hari-hari kemarin. Setidaknya begitu lah menurutku. Sudah satu minggu sejak pertemuanku dengan wanita itu. Kini, aku lebih merasa kalau perasaanku saat itu hanya perasaan iba semata.

Aku yang terbiasa berpikiran simple hanya berpikir, jatuh cinta atau tidak, toh kalau jodoh enggak akan kemana. Hanya tinggal menunggu waktu dan tempat yang tepat.

Sekarang aku telah berjalan menyusuri parkiran motor kampus. Tidak ada yang spesial, tapi perasaan ini.. aneh. Saat tiba di lorong, aku melihat sosok yang sepertinya tak asing. Wanita itu? Batinku. Aku memicingkan mata, berusaha untuk fokus. Benar, aku bahkan sangat mengenalinya walaupun ia membelakangiku. Memory yang aneh, padahal aku baru sekali bertemu dengannya.

Ia berbalik, berjalan menuju ke arahku. Tanpa sadar langkahku berhenti. Mataku menatap lekat wajahnya, tanpa berkedip. 10 m, 5 m, dia mengangkat wajahnya memandangku. Karena memang posisiku sejajar dengannya. 2 m. Ia berhenti. Mulutnya terbuka tapi tak bersuara. Selama beberapa detik kami bertatapan tanpa suara.

“Mas yang kemarin kan?” tanyanya memecah keheningan.

“Oh, emm.., ah, i..iya, iya aku yang kemarin,” jawabku gugup. Kenapa ini? Kenapa jantungku deg-degan? Pikirku. “em.., temenku yang kemarin, apa udah minta maaf sama kamu?”

“Enggak usah dipermasalahin lagi mas. Aku juga kok kemarin yang salah. Jalan buru-buru, dan ga focus,” ujarnya sambil tersenyum.

Kenapa jalan buru-buru dan enggak fokus? Kamu bisa cerita ke aku kalo enggak keberatan, ujarku dalam hati. “ah, iya, makasih. Btw, kamu anak fakultas mana?” lanjutku basa basi.

“Fakultas ekonomi, sekarang baru tahun ke 4, rencana nya tahun depan mau skripsi. Mas sendiri ambil jurusan apa?” tanyanya.

Aku agak malu untuk menjawab. “Em, hukum. Tapi udah tahun ke 7 skripsi masih harus revisi.”

Dia tertawa kecil. “Jangan gentar gitu mas, aku bantu doa biar cepet kelar ya. Oh, maaf mas, aku harus pergi. Nanti lain kali kita lanjutin ngobrolnya ya.”

Dia berlalu meninggalkanku. Mataku terus menatap punggungnya lekat-lekat hingga menghilang. Seolah tak rela waktu bersamanya berakhir.

“Bro,” tiba-tiba Bagas sudah berdiri di sampingku, sambil menepuk pundakku. Aku terkejut dibuatnya.

“Anjirr, Gas. Apaan sih lo ngagetin?!” Kataku setengah emosi karena kaget.

“Lo yang anjir upil. Gue daritadi manggilin lo, lo nya ga nyaut-nyaut. Malah bengong disini.” Kata Bagas ikutan kesal, “Yoklah cabs..”

Kami pun berjalan bersama menuju ruang kelas. Di kelas baru ada beberapa anak yang duduk. Aku dan Bagas mengambil tempat agak ke belakang.

“Gas, gue tadi ketemu cewek yang pernah lo tabrak,” ujarku membuka pembicaraan.

“Hmm, terus?” jawabnya seperti tidak tertarik. Matanya tetap menatap lekat handphonenya. Aku menempeleng belakang kepalanya dengan buku tulis. “Apaan sih Yo?! Entar kalo gue  lupa ingatan gimana?”

“Lebay lo cumi. Lagian, orang kayak enggak ada rasa bersalahnya. Emang lo udah minta maaf ma die?” sekarang aku yang kesal melihat kelakuannya.

“Kemarin pas gue cabs, lo minta maaf ke dia ga?” kata Bagas malah balik bertanya.

“Ya iya lah, lo nya main pergi gitu. Kasian juga kali tu cewek beres in buku sebanyak itu sendirian.”

“Ya udah, berarti udah enggak ada masalah.” Bagas terlihat tenang.

“Ahh, cumi!!” ujarku.”Tapi kenapa gue deg-degan ya kalo ketemu dia?”

Bagas menoleh perlahan ke arahku. Hpnya langsung diacuhkannya. “Nah, bener kan? Bener ni feeling gue kemarin,” katanya sambil mengabarkan jari telunjuknya ke arahku.

“Feeling apaan?” aku kebingungan.
“Lo JATUH CINTA cumi!” jelasnya.
WTF!! Gue jatuh cinta?? “Enggaklah. Gue tau namanya aja enggak,” tepisku. Baru saja Bagas mau menjawab dosen sudah masuk ke ruangan.

“Lo pikir aja sekarang? Kenapa muka tuh cewek muter-muter di ingatan lo,” katanya setengah berbisik.

Aku mulai berpikir, Bagas ada benarnya juga. Kenapa bahkan saat ini gue masih kepikiran sama tuh cewek, pikirku.



PERTEMUAN 3

Hari ini hari sabtu, tepat satu minggu setelah pertemuan keduaku dengan wanita itu. Aku semakin penasaran, dan aku semakin bingung dengan perasaanku. Aku memang belum pernah benar-benar merasakan jatuh cinta. Bahkan untuk berpacaran saja, paling lama hanya bertahan 1 bulan. Menurutku, tidak ada manfaatnya kalau berpacaran. Yang ada dompet semakin tipis karena harus jalan dan makan disana sini. Tapi bukan berarti tidak ada perempuan yang membuatku tertarik. Sekedar tertarik aku beberapa kali merasakannya. Tapi untuk urusan jatuh cinta, aku rasa aku benar-benar buta. Dan perasaan aneh yang saat ini aku rasakan, aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya.

Feelingku hari ini, sepertinya aku akan bertemu wanita itu lagi. Makanya aku sudah bertekad, akan sedikit mencari informasi tentang kehidupannya,jika nanti aku bertemu dengannya. Minimal aku bisa tahu nama dan tempat tinggalnya. Dan informasi status pernikahan mungkin.

Sampai jam makan siang, aku ternyata tidak bertemu dengannya. Bahkan saat aku berjalan di lorong tempat kemarin bertemu dengannya, dia juga tidak ada. Aku juga sudah sengaja menyusuri fakultas ekonomi, tapi nihil. Entah kenapa semangatku agak redup. Aku lalu mengambil handphoneku, dan menelpon Bagas.

“Yo sob,” jawabnya.
“Dimana lo?” tanyaku lesu.
 “Kantin sob, merapat sini. Ada Tio, Vita, sama Jefri juga ni,” katanya.
“Oke deh gue kesono, warung Mba Dewi kan? Gue kesono sekarang,” kataku sambil mengakhiri pembicaraan. Aku kemudian berjalan menuju kantin yang jaraknya kurang lebih 30 m dari tempatku berada.

Dari kejauhan, di warung Mba Dewi, aku melihat teman-temanku. Bagas yang sudah melihatku melambaikan tangan. Aku membalas melambaikan tangan. Baru tiga langkah berjalan, mataku kembali menangkap sosok yang tak asing. Yang telah aku cari dari pagi.
Wanita itu. Duduk di sebuah kursi taman dengan tangan memegang selembar kertas. Menurutku dari caranya melihat kertas itu, dia tidak sedang membaca. Lagi, aku melihat beban yang berat di matanya.

Niatku untuk menuju tempat Bagas dan kawan-kawan aku urungkan. Aku berjalan menuju wanita itu. Aku benar-benar tidak akan melewatkan kesempatan ini.

“Hai,” sapaku.
Dia menengok ke arahku. “Ah, hai," jawabnya singkat.
“emm, aku tadi liat kamu duduk disini sendirian, jadi aku kesini. Lagi baca surat?” Tanyaku.
WFT, Aryo!! Ngomong apa sih lo?! Enggak ada bahasan lain??

“Oh, ini. Iya, aku lagi baca surat. Kamu sendirian juga?” Tanyanya sambil buru-buru memasukkan kertas itu ke dalam Tasnya.

“Iya, aku mau ketemu teman-temanku tuh disitu. Gabung yuk,” ajakku sambil menunjuk ke arah Bagas yang celingukan sepertinya mencariku.

“oh, emm, lain kali aja ya. Aku kebetulan ada urusan. Enggak apa-apa kan?” tolaknya sopan.
“Oh iya, enggak, enggak ada masalah,”
“Kalo gitu, aku pergi dulu ya,” ujarnya sambil beranjak pergi. Dia berjalan agak cepat, mungkin memang ada urusan darurat. Aku kembali menatap punggungnya hingga menghilang.

Aryo, kenapa enggak nanya namanya!!! Batinku sambil menepuk kening. Aku menghela nafas panjang. Lalu aku melanjutkan tujuanku menemui Bagas dan yang lainnya.



PERTEMUAN 4

“Yo, bangun cumi. Hari ini terakhir bayar uang semester ni, lo udah bayar belom?” Ujar Bagas membangunkanku. Aku terbangun malas, mengambil handphoneku untuk melihat jam. Aku terlonjak dari tidurku. Pukul 13.54. Loket pembayaran kampus akan tutup pukul 15.00.

“Anjir, cumi, lo kenapa bangunin gue jam segini?!” Kataku kesal pada Bagas, sambil berjalan cepat menuju kamar mandi.

“Eh, upil, gue udah bangunin lo dari jam 12, lo nya aja yang kebo. Lagian kebiasaan sih bayarnya mepet-mepet” katanya.

Aku hanya mencuci muka, ganti kaos, dan langsung mengambil kunci motorku. Agak ngebut aku mengendarai motor menuju kampus. Sesampainya di kampus aku langsung berlari menuju loket pembayaran. Syukurlah, masih buka. Pikirku.

Kampusku yang satu ini memang antik, untuk soal bayar membayar, harus dilakukan transaksi bertemu langsung. Padahal Universitas lain sudah menggunakan transfer via bank. Yah, tapi mungkin ada hikmahnya juga. Seperti hari ini, tanpa diduga aku kembali bertemu dengan wanita misterius itu. Dia terlihat sedang tawar menawar dengan staff keuangan kampus. Aku mencuri dengar sedikit pembicaraan mereka.

“Tolong bu, kasih saya waktu empat hari aja. Saya pasti bayar kok," ujarnya memelas.
“Kalau saya punya wewenang, pasti daritadi udah saya acc. Tapi sekali lagi, saya tidak punya wewenang sama sekali. Maaf ya, saya cuma bisa kasih perpanjangan waktu sampai pukul 5 sore ini. Setelah itu, saya tidak bisa bantu,” ujar wanita dari dalam loket.

Kesempatan, batinku. Aku mendekati mereka. Kalau ini berhasil, aku bisa tahu banyak tentang wanita itu.

“Hai, ada yang bisa dibantu?” sapaku.

Dia menengok ke arahku, "ah, ini, aku kebetulan belum gajian, jadi aku belum bisa bayar uang semester sekarang. Biasanya aku selalu udah pisahin, jadi enggak bingung lagi kalau mau bayar. Tapi bulan ini aku benar-benar lagi butuh uang, jadi uang buat bayarnya aku pake. Aku udah coba minta perpanjangan waktu, tapi cuma dikasih sampai sore ini jam 5. Aku enggak tahu lagi harus gimana.” Ujarnya sambil duduk di kursi tunggu samping loket. Aku mengikutinya, sambil mendengarkan dengan seksama.

“Oh, ya udah kamu pake uang aku aja dulu,” tawarku. Kebetulan uang jatah dari mama baru aku terima kemarin. Cuma empat hari ini, gampanglah soal makan sama bensin, pikirku. Dia menoleh memandangku. Sinar harapan terpancar di matanya. Wanita ini, begitu mudah membaca ekspresinya.

Lalu dia menggeleng cepat. “Jangan, aku yang enggak enak. Kamu pasti juga butuh uang itu,” tolaknya.

“Iya, aku butuh memang. Secara aku anak Kos. Tapi butuhnya juga enggak sekarang kok. Gimana? Terserah sih, kalau kamu mungkin punya solusi lain.” Aku sok jual mahal di depannya. Ia menatap ke lantai, sepertinya sedang berpikir. Dahinya berkerut. Lalu, menghela nafas panjang.

Tiba-tiba ia menghadapkan tubuhnya ke arahku. Matanya menatap langsung ke dalam mataku. Dan jantungku, berani sumpah, berdetak kencang sekencang-kencangnya.

“Oke. Jujur, aku enggak punya solusi lain lagi. Kalau kamu benar-benar ikhlas mau bantu aku, aku terima bantuan kamu. Tapi, ini semua enggak pake syarat yang aneh-aneh kan?” tanyanya.

Aku tertawa kecil. “Adalah, di dunia ini mana ada yang gratis,” ujarku menggodanya. Dia memundurkan sedikit badannya menjauh dariku. “syaratnya, aku harus tahu nama kamu. Nanti kalau aku enggak tahu, gimana aku nagihnya?”

Ia memejamkan mata, sambil kembali menarik nafas dalam-dalam. Lalu ia tersenyum.
“Ya udah kita bayar sekarang yuk,” ajakku. Ia mengangguk kecil. Kami pun menuju loket dan membayar uang semester miliknya.

“Nah, daritadi dong mas, kasian kan pacarnya . Saya juga sebenernya enggak tega, tapi gimana lagi,” kata staff keuangan membuat aku tersipu malu. Aku hanya tersenyum mendengarnya.

“Enggak bu, bukan. Saya udah punya anak.”

DUAAARRRR!!! Bagai tersambar petir di siang bolong. Punya anak? Semuda ini? Artinya, dia udah nikah dong, batinku. Senyumku pudar seketika. Aku menatapnya tak berkedip. Rasanya seperti diangkat tinggi-tinggi, lalu dibanting sekeras-kerasnya. Dada ini mendadak sesak.

“Terima kasih ya Mas, udah tolongin aku. Oh iya, nama aku Ayu. Kita tukeran nomor hp ya, biar lebih gampang nanti.”

Untuk apa?! Nama, nomor telpon, bahkan tempat tinggal pun enggak ada gunanya lagi sekarang! Batinku marah. Entah marah pada siapa, bahkan aku tahu itu bukan salah Ayu. Tapi bibir ini tak kuasa berbicara seperti itu. Aku memberikan nomor telponku dan menyimpan nomor Ayu.

“Mas Aryo. Oke, 4 hari lagi pasti aku hubungin Mas, dan bayar hutangku. Terima kasih sekali lagi ya Mas,” ujarnya penuh kelegaan. Aku hanya mengangguk lemas, sambil memasang senyum kecewa. “Mas Aryo nyesel ya, minjemin uang ke aku?” tanyanya.

“Hah?" Bukan, aku menyesal telah mengenalmu. “Enggak. Enggak kok, aku seneng bisa bantu kamu. Kalau gitu, aku pamit ya. Salam untuk suami dan anakmu,” ujarku singkat dan langsung meninggalkanku Ayu. Ayu seperti hendak berkata-kata lagi. Tapi aku sudah tidak mau berbicara lagi dengannya.

Kalau memang sudah punya suami, kenapa suaminya enggak datang membantu?! Lagi pula, buat apa kuliah lagi, kan sudah terjamin sama suami?! Pake kerja juga, anaknya mau ditelantarin apa?! Pikirku penuh emosi. Mungkin ini yang namanya patah hati. Segala tentangnya, berubah jadi buruk, tanpa tahu kebenarannya.



PERTEMUAN 5

Sejak kejadian itu, telpon bahkan sms dari Ayu aku abaikan. Sesekali aku membalasnya, sisanya, aku diamkan dengan mengaku sibuk. Kerjaanku dua hari belakangan, hanya duduk di teras belakang rumah sambil melamun, atau menyendiri di Kantin. Bahkan 4 hari setelah itu, saat Ayu hendak membayar hutang, aku hanya memberinya nomer rekeningku, dan memintanya mentransfer uangnya.

Saat hendak berpaspasan dengan Ayu, aku memilih untuk memutar jalan. Aku tahu ini bukan salah Ayu, tapi hatiku terlalu sakit untuk bisa bertemu dengannya. Kalau begini, aku kapok jatuh cinta.

Bagas hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahku. Saat teman yang lain menanyakan sikapku, dia hanya bilang kalau aku sudah mulai gila karena skripsi tak kunjungan selesai. Benar juga, aku harus kembali ke alam nyata dan mulai menyelesaikan skripsiku.

Seminggu setelah ‘masa pemulihan', aku kembali fokus dengan tugasku. Aku duduk di Kantin sambil mengerjakan revisi skripsiku. Secangkir cappuccino hangat ikut menemaniku. Tiba-tiba Bagas datang dengan nafas terengah-engah. Dia menyeruput cappuccinoku sampai hampir habis.

“Ngapain sih lo, kayak dikejar rentenir?” tanyaku, “main ngembat kopi gue lagi.”
“Lo.. udah tau belom.. cewek.. yang gue tabrak.. waktu itu?” katanya dengan nafas terengah-engah.
“Ayu?” tebakku.

Bagas melongo dengan mata melotot. “Lo udah tau namanya?” tanyanya. Aku hanya mengangguk ringan, sambil kembali fokus dengan tugasku.

“Bukannya lo naksir dia?” lanjutnya heran.
“Dulu iya, sekarang enggak,” jawabku singkat. Enggak mungkin lagi buat naksir dia, batinku.

“Ya terus?”
“Ya terus apanya cumi?” tanyaku mulai kesal. Kami seperti sedang main teka teki.
“Ya lo udah tahu belum?”
“Tahu apa? Kalau dia udah merrid dan punya anak? Iya, gue udah tahu Bagas.” Ujarku.
“Terus kenapa lo masih disini?”

Aku menghela nafas panjang. Kemudian menatap Bagas. “Terus gue harus dimana?”

“Ya ke rumahnya cumi?!” sepertinya sekarang Bagas yang mulai kesal.
“Ngapain Gas? Ketemu lakinya terus bilang kalo gue naksir bininya?” kataku.
“Ah, bener ni, kudet. Browww, Ayu itu janda, anak satu. Lakinya meninggal 2 tahun yang lalu. Anaknya divonis kena kanker sejak setahun yang lalu. Dan lo tau, tadi pagi, anaknya baru meninggal,” jelas Bagas. Kini aku yang melongo dengan mata melotot.

Janda? Anak satu? Jadi, janda?

Aku langsung berlari tanpa memperdulikan barang-barangku yang tertinggal. Hanya kunci motor  yang ada di tanganku. Terdengar Bagas meneriaki namaku berulang kali. Alamat, Ayu pernah mengirim alamat nya lewat sms. Aku berhenti sejenak sebelum melaju dengan motor.
Aku membuka pesen Ayu satu per satu. Dua Sms terakhir terdengar seperti ia sangat butuh bantuan. Ah, kenapa aku mengabaikannya!!?

Setelah ketemu, aku langsung meluncur menuju rumah Ayu. Ternyata rumahnya sangat mudah ditemukan. Bendera kuning sudah menuntun sejak masuk gang. Aku memarkir motor di halaman rumah. Sudah banyak motor terparkir di sana. Setelah menyalami beberapa pelayat di pintu masuk, aku masuk ke dalam rumah. Terlihat Ayu, dengan busana serba hitam, dan buku Yasin di tangan. Matanya terlihat lelah, dan berkaca-kaca. Di sebelahnya sudah terbujur kaku seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahun. Aku duduk di samping anak itu, di hadapan Ayu.
Maaf nak, kita bertemu dalam keadaan seperti ini. Seandainya Om lebih mengesampingkan ego Om, batinku sambil menatap wajah anak itu. Matanya, ia mewarisi mata ibunya. Mata yang mudah terbaca ekspresinya.
“Mas Aryo,” panggil Ayu. Aku menengok menatapnya. Tak terasa air mata ini jatuh. Entah perasaan apa lagi ini. Tapi aku sedih, sekaligus bahagia. Ayu, maaf, aku sangat menyesal mengabaikanmu. Aku turut sedih atas kepergian permata hatimu. Tapi sekali lagi maaf, aku mencintaimu, dan aku senang atas keadaanmu saat ini. Ijin kan aku, di hari-hari kemudian, untuk bisa mengisi kebahagiaan yang selama ini kau abaikan. Ayu, cinta pertamaku yang menyedihkan.

TAMAT



Sumber gambar : Google.com