Setelah menikah kurang lebih 2 tahun, akhirnya Rawi melahirkan seorang putri. Alra namanya. Kini ia berusia 8 bulan. Tidak hanya Rawi, tapi Ladi Dan Ibunya juga senang sekali mendapatkan 1 anggota Baru Dalam keluarganya.
Ladi senang sekali bercanda dengan keponakannya. Apalagi sepulang Kerja, sekedar untuk melepas lelah.
Malam itu seperti biasa, Ladi mengajak Alra bercanda. Alra Yang sedang digendong oleh Rawi, tertawa terbahak-bahak.
Saat Ladi hendak melakukan 'cilukba', Ladi menutup wajahnya dengan Kain gendongan. Saat wajahnya tertutup. Dia melihat bayangan kakaknya Rawi, berdiri Di sebelah kiri, kemudian berjalan ke sebelah kanan. Penglihatannya mengikuti gerakan bayangan Rawi, Yang kini berdiri Di sebelah kanan Ladi.
Namun Saat Kain dibuka, ternyata, Di sebelah kanan Ladi kosong. Tidak Ada orang. Rawi sendiri ternyata berdiri Di belakang Ladi.
Ladi terbengong-bengong sendiri.
"Kenapa lo?" Tanya Rawi.
"Lo tadi berdiri Di sini Kan?" Ujar Ladi sambil menunjuk Sisi kanannya.
"Gak, daritadi gw ngekor lo Aja Dari belakang. Kenapa emang?"
"Yang bener lo? Berani sumpah, gue tadi Liat lo jalan Dari Kiri ke kanan, terus berdiri disitu. Makanya gw buka kainnya disitu."
"Oke, mending udahan deh.. ke kamar Aja Yok.." ajak Rawi Yang mulai merinding.
Bayangan Yang mirip Rawi, mungkin 'dia' ingin ikut bermain dengan mereka..
Senin, 12 Agustus 2019
Kamis, 08 Agustus 2019
Real Story - 17 Agustus 1999 (versi Ladi)
Malam 17 Agustus, semua menikmati kemeriahan Yang dihadirkan warga. Termasuk Ladi, Rawi, Dan teman-temannya.
Saat duduk Dan sedang menikmati film Di TV, Ladi melihat sesuatu. Ada seorang kakek Yang sedang duduk Di atas pohon.
Kakek dengan pakaian jawa, lengkap dengan blangkon. Dia tersenyum ke arah Ladi. Ladi hanya melihat ke arahnya.
'De, Liat apa sih?" Tanya Rawi Yang mengetahui Ladi tidak fokus melihat TV.
Ladi tidak menjawab. Ia hanya melihat kakek-kakek itu terus tersenyum ke arahnya.
"udah Liat TV Aja Tu, bagus filmnya".
Ladi menuruti Rawi. Namun, kakek-kakek tersebut tetap tidak beranjak Dari pohon itu. Ladi berpikir, 'ngapain kakek-kakek manjat-manjat pohon? Malem-malem lagi..'
Ladi kembali melihat kakek itu. Ia Masih tersenyum ke arah Ladi. Ladi masih terdiam Tanpa ekspresi.
"De, udah jangan diliatin, Liat TV Aja yaa.." kata Rawi.
Ladi lalu kembali melihat TV lagi. Tapi kakek itu sekali lagi, lebih menarik perhatian Ladi. Pada akhirnya, Ladi juga mencoba tersenyum pada kakek itu.
Lalu tiba-tiba, Rawi mengajak Ladi pindah tempat duduk. Dan kakek itu menghilang entah kemana.
Saat duduk Dan sedang menikmati film Di TV, Ladi melihat sesuatu. Ada seorang kakek Yang sedang duduk Di atas pohon.
Kakek dengan pakaian jawa, lengkap dengan blangkon. Dia tersenyum ke arah Ladi. Ladi hanya melihat ke arahnya.
'De, Liat apa sih?" Tanya Rawi Yang mengetahui Ladi tidak fokus melihat TV.
Ladi tidak menjawab. Ia hanya melihat kakek-kakek itu terus tersenyum ke arahnya.
"udah Liat TV Aja Tu, bagus filmnya".
Ladi menuruti Rawi. Namun, kakek-kakek tersebut tetap tidak beranjak Dari pohon itu. Ladi berpikir, 'ngapain kakek-kakek manjat-manjat pohon? Malem-malem lagi..'
Ladi kembali melihat kakek itu. Ia Masih tersenyum ke arah Ladi. Ladi masih terdiam Tanpa ekspresi.
"De, udah jangan diliatin, Liat TV Aja yaa.." kata Rawi.
Ladi lalu kembali melihat TV lagi. Tapi kakek itu sekali lagi, lebih menarik perhatian Ladi. Pada akhirnya, Ladi juga mencoba tersenyum pada kakek itu.
Lalu tiba-tiba, Rawi mengajak Ladi pindah tempat duduk. Dan kakek itu menghilang entah kemana.
Real Story - Cerita Ladi
Ladi Dan Rawi mempunyai selisih usia 7 tahun. Saat Rawi memutuskan untuk menikah, kemudian sekitar 3 Bulan Rawi Dan Hamin pindah ke Jakarta. Tinggallah Ladi Dan ibunya hanya berdua Saja.
Biasanya Rawi Dan Hamin Akan datang berkunjung sebulan sekali. Seperti Hari ini, Rawi Dan Hamin sedang berkunjung untuk sekedar menengok Ibu Dan Ladi.
Malam Hari mereka pulang. Mereka sedang bersiap-siap Di teras, memakai helm Dan segala macam. Ibunya menemani mereka. Namun Ladi, Masih terduduk Di Ruang tengah sedang menonton TV.
Tiba-tiba Dari sudut mata Ladi, ia melihat seperti Ada seekor kucing Yang lewat.
'Kucing ya? Kok gede banget?' pikirnya. Saat sedikit melirik ke Arah kucing Yang sedang berjalan itu sekilas...
'Astaghfirullah, itu sih bukan kucing!'
Ladi melihat sosok wanita, dengan rambut panjang melebihi bahu, berjalan merangkak, melintas ke Arah kamar.
Ladi diam tak bergeming, berpura-pura tidak melihat apa-apa. Setelah wanita itu lewat, ia keluar berjalan menuju teras. Namun, ia tak bercerita apa-apa pada Ibu, Rawi, Dan Hamin.
Biasanya Rawi Dan Hamin Akan datang berkunjung sebulan sekali. Seperti Hari ini, Rawi Dan Hamin sedang berkunjung untuk sekedar menengok Ibu Dan Ladi.
Malam Hari mereka pulang. Mereka sedang bersiap-siap Di teras, memakai helm Dan segala macam. Ibunya menemani mereka. Namun Ladi, Masih terduduk Di Ruang tengah sedang menonton TV.
Tiba-tiba Dari sudut mata Ladi, ia melihat seperti Ada seekor kucing Yang lewat.
'Kucing ya? Kok gede banget?' pikirnya. Saat sedikit melirik ke Arah kucing Yang sedang berjalan itu sekilas...
'Astaghfirullah, itu sih bukan kucing!'
Ladi melihat sosok wanita, dengan rambut panjang melebihi bahu, berjalan merangkak, melintas ke Arah kamar.
Ladi diam tak bergeming, berpura-pura tidak melihat apa-apa. Setelah wanita itu lewat, ia keluar berjalan menuju teras. Namun, ia tak bercerita apa-apa pada Ibu, Rawi, Dan Hamin.
Real Story - Setengah Tidur
Tahun 2010, Rawi menikah. Rawi dan suaminya, Hamin, memutuskan untuk tetap tinggal Di Rumah Ibu Rawi untuk sementara waktu.
Pagi Hari Saat hendak berangkat bekerja, ternyata motor Hamin mogok. Sementara Hamin membongkar motornya, Rawi tidur-tiduran Di kamarnya.
Posisinya terlentang. Dia Masih Belum tidur, hanya sekedar memejamkan matanya. Dia Masih bisa mendengar suara TV Dari Ruang Tengah, Dan suara Hamin Yang tengah membongkar motor.
Lalu dia melihat, Dari Arah kamar Mandi, Ada anak kecil Yang berlari ke pintu kamarnya. Anak itu seperti berusia 2-3 tahunan. Dia berdiri Di pintu, melihat ke arah Rawi Yang sedang tiduran. Lalu kembali berlari ke kamar Mandi, lalu berlari lagi ke pintu kamarnya. Begitu hingga 3x.
Lalu Rawi melihat, Ada perempuan. Berambut panjang melebihi bahu. Tetapi berjalan merangkak. Dia merangkak Di kasur Rawi, memutari kepalanya. Merangkak Dari Sisi Kiri, ke Sisi kanan.
Tiba-tiba Rawi terbangun.
'Hah, tadi gue tidur? Tapi perasaan ga deh.. kayak Masih denger suara TV Sama suara motor..'
Tapi Rawi tak menghiraukan semua mimpinya. Atau mungkin itu bukan mimpi??
Pagi Hari Saat hendak berangkat bekerja, ternyata motor Hamin mogok. Sementara Hamin membongkar motornya, Rawi tidur-tiduran Di kamarnya.
Posisinya terlentang. Dia Masih Belum tidur, hanya sekedar memejamkan matanya. Dia Masih bisa mendengar suara TV Dari Ruang Tengah, Dan suara Hamin Yang tengah membongkar motor.
Lalu dia melihat, Dari Arah kamar Mandi, Ada anak kecil Yang berlari ke pintu kamarnya. Anak itu seperti berusia 2-3 tahunan. Dia berdiri Di pintu, melihat ke arah Rawi Yang sedang tiduran. Lalu kembali berlari ke kamar Mandi, lalu berlari lagi ke pintu kamarnya. Begitu hingga 3x.
Lalu Rawi melihat, Ada perempuan. Berambut panjang melebihi bahu. Tetapi berjalan merangkak. Dia merangkak Di kasur Rawi, memutari kepalanya. Merangkak Dari Sisi Kiri, ke Sisi kanan.
Tiba-tiba Rawi terbangun.
'Hah, tadi gue tidur? Tapi perasaan ga deh.. kayak Masih denger suara TV Sama suara motor..'
Tapi Rawi tak menghiraukan semua mimpinya. Atau mungkin itu bukan mimpi??
Real Story - Lampu
Tahun 2008, Rawi telah lulus sekolah, Dan bekerja Di satu pabrik di daerah Cibitung. Di masa-masa ini, Rawi sangat senang sekali bercermin. Cermin besar sepanjang 1,5 meter, dipaku disamping kamar Mandi. Jadi setelah Mandi, bisa langsung bercermin.
Saat itu menjelang Malam, Ibu Rawi berpamitan untuk pergi ke kampung halaman tetangga Di daerah Majalengka, untuk menghadiri satu acara. Tinggallah Rawi dengan Ladi. Ladi sendiri telah berusia 12 tahun.
Selesai Mandi, seperti biasa, Rawi berdiri Di depan cermin. Berpura-pura membentuk rambutnya dengan bermacam-macam bentuk.
"Ka, gue ke Rumah Ika yaa.. Dia takut katanya sendirian Di Rumah."
"Oh ya udh, tidur sini Aja Kalo takut, bareng-bareng disini."
"Ok"
Ika adalah anak tetangga Ibu Rawi. Ibunya Ika, juga ikut pergi ke Majalengka bersama adiknya. Tinggallah ia sendiri Di Rumah.
Saat sedang asik bercermin, Karena melihat langit mulai gelap, ia menyalakan semua lampu. Termasuk lampu kamar Mandi Yang memang selalu menyala bila Malam.
Lalu ia kembali melanjutkan bercermin. Dan Tanpa disadarinya, Saat ia menangkap kamar Mandi Dari sudut matanya...
'Lah, kok gelap? Perasaan tadi udah gue nyalain.. ah, lupa Kali gue'.
Rawi kembali menyalakan lampu kamar Mandi. Lalu ia bercermin lagi. Dan sekali lagi, ia melihat, lampu kamar Mandi kembali mati.
'wah, sial*n! Dikerjain gue. Udah deh, jangan iseng', ujarnya Dalam hati.
Ia bisa berkata begitu, namun jantungnya tidak bisa Bohong. Ia sangat ketakutan. Niatnya untuk kembali bercermin pun ia urungkan.
Rawi berjalan ke Ruang Tengah, mengambil handphone nya, Dan menelpon Ladi.
"Cepet pulang sini de, temenin gue."
"Kenapa lo Ka?"
"Udah cepet pulang deh!"
"Ya udah Kalo gitu.."
Rawi duduk menunggu Ladi Di Ruang Tengah. Tak lama kemudian Ladi Dan Ika datang. Rawi menceritakan apa Yang dia alami. Pada akhirnya, mereka bertiga tidur bersama Di Ruang Tengah.
Saat itu menjelang Malam, Ibu Rawi berpamitan untuk pergi ke kampung halaman tetangga Di daerah Majalengka, untuk menghadiri satu acara. Tinggallah Rawi dengan Ladi. Ladi sendiri telah berusia 12 tahun.
Selesai Mandi, seperti biasa, Rawi berdiri Di depan cermin. Berpura-pura membentuk rambutnya dengan bermacam-macam bentuk.
"Ka, gue ke Rumah Ika yaa.. Dia takut katanya sendirian Di Rumah."
"Oh ya udh, tidur sini Aja Kalo takut, bareng-bareng disini."
"Ok"
Ika adalah anak tetangga Ibu Rawi. Ibunya Ika, juga ikut pergi ke Majalengka bersama adiknya. Tinggallah ia sendiri Di Rumah.
Saat sedang asik bercermin, Karena melihat langit mulai gelap, ia menyalakan semua lampu. Termasuk lampu kamar Mandi Yang memang selalu menyala bila Malam.
Lalu ia kembali melanjutkan bercermin. Dan Tanpa disadarinya, Saat ia menangkap kamar Mandi Dari sudut matanya...
'Lah, kok gelap? Perasaan tadi udah gue nyalain.. ah, lupa Kali gue'.
Rawi kembali menyalakan lampu kamar Mandi. Lalu ia bercermin lagi. Dan sekali lagi, ia melihat, lampu kamar Mandi kembali mati.
'wah, sial*n! Dikerjain gue. Udah deh, jangan iseng', ujarnya Dalam hati.
Ia bisa berkata begitu, namun jantungnya tidak bisa Bohong. Ia sangat ketakutan. Niatnya untuk kembali bercermin pun ia urungkan.
Rawi berjalan ke Ruang Tengah, mengambil handphone nya, Dan menelpon Ladi.
"Cepet pulang sini de, temenin gue."
"Kenapa lo Ka?"
"Udah cepet pulang deh!"
"Ya udah Kalo gitu.."
Rawi duduk menunggu Ladi Di Ruang Tengah. Tak lama kemudian Ladi Dan Ika datang. Rawi menceritakan apa Yang dia alami. Pada akhirnya, mereka bertiga tidur bersama Di Ruang Tengah.
Real Story - Mimpi 3 (Peringatan)
Malam Kali ini, Mata Rawi seperti tak mengantuk Sama sekali. Padahal, esok Hari dia harus berangkat lebih pagi ke sekolah. Iseng, dia membalik posisi tidurnya. Yang biasanya posisi kepala menjadi posisi Kaki, Dan posisi Kaki, sekarang menjadi posisi kepala.
'Nyaman juga sekali-kali kayak gini. Ngubah suasana.'
Dan benar Saja, tak butuh waktu lama, Rawi lalu terlelap.
Lalu dia bermimpi, Di sebuah Rumah entah itu dimana, dia dipanggil oleh seorang kakek-kakek. Dia mendekati kakek-kakek tersebut. Kakek itu seperti menasehati Rawi. Namun, Rawi Sama sekali tidak mengerti Bahasa Yang digunakan kakek itu.
Kakek itu, menasehati Rawi, sambil memegang kepala Rawi, Dan menekan-nekan kepalanya. Dan entah kenapa, Rawi kemudian terbangun.
'mimpi aneh..'
Mimpi biasa, tapi Rawi merasa aneh.
Ia mencoba kembali tidur. Dan lalu, ia kembali bermimpi, ia dibonceng oleh seseorang Yang tak ia kenal. Dan jalanan Yang dilintasi, benar-benar jalanan rusak parah. Sehingga membuat tubuh Rawi berguncang-guncang hebat. Itu terjadi sekitar 1 menit lamanya. Lalu ia terbangun.
'kenapa sih? Kok perasaan mimpinya aneh..'
Tapi, Rawi kembali tak menghiraukan. Ia sekali lagi kembali mencoba tidur. Dan ia kembali bermimpi.
Ia bermimpi sedang tidur dengan posisi Sama seperti terakhir ia tidur. Lalu, Ada sepotong tangan, dengan jari Yang panjang, kuku Yang tajam, keluar menembus kasur, tepat Di bawah badannya.
Tangan itu mendorong-dorong badan Rawi, hingga badan Rawi terdorong kuat. Setelah 2x dorongan, Rawi bangun dengan terkejut, sambil melihat kasurnya.
Kosong. Tapi perasaannya sangat tidak enak.
'Ya ampun, apa gara-gara ngubah posisi tidur ya?'
Akhirnya Rawi mengubah posisi tidur ke posisis Yang benar. Dan ia, tak lagi bermimpi.
'Nyaman juga sekali-kali kayak gini. Ngubah suasana.'
Dan benar Saja, tak butuh waktu lama, Rawi lalu terlelap.
Lalu dia bermimpi, Di sebuah Rumah entah itu dimana, dia dipanggil oleh seorang kakek-kakek. Dia mendekati kakek-kakek tersebut. Kakek itu seperti menasehati Rawi. Namun, Rawi Sama sekali tidak mengerti Bahasa Yang digunakan kakek itu.
Kakek itu, menasehati Rawi, sambil memegang kepala Rawi, Dan menekan-nekan kepalanya. Dan entah kenapa, Rawi kemudian terbangun.
'mimpi aneh..'
Mimpi biasa, tapi Rawi merasa aneh.
Ia mencoba kembali tidur. Dan lalu, ia kembali bermimpi, ia dibonceng oleh seseorang Yang tak ia kenal. Dan jalanan Yang dilintasi, benar-benar jalanan rusak parah. Sehingga membuat tubuh Rawi berguncang-guncang hebat. Itu terjadi sekitar 1 menit lamanya. Lalu ia terbangun.
'kenapa sih? Kok perasaan mimpinya aneh..'
Tapi, Rawi kembali tak menghiraukan. Ia sekali lagi kembali mencoba tidur. Dan ia kembali bermimpi.
Ia bermimpi sedang tidur dengan posisi Sama seperti terakhir ia tidur. Lalu, Ada sepotong tangan, dengan jari Yang panjang, kuku Yang tajam, keluar menembus kasur, tepat Di bawah badannya.
Tangan itu mendorong-dorong badan Rawi, hingga badan Rawi terdorong kuat. Setelah 2x dorongan, Rawi bangun dengan terkejut, sambil melihat kasurnya.
Kosong. Tapi perasaannya sangat tidak enak.
'Ya ampun, apa gara-gara ngubah posisi tidur ya?'
Akhirnya Rawi mengubah posisi tidur ke posisis Yang benar. Dan ia, tak lagi bermimpi.
Real Story - Mimpi 2 (Lucid Dream)
Malam itu Rawi tidur seperti biasa. Tidak Ada Yang istimewa, tidak Ada ritual Di luar kebiasaannya sehari-hari. Malam Yang biasa, tidur Yang biasa. Di kamarnya yang Ada Di depan. Posisi tidurnya Kala itu adalah miring ke kanan, menghadap ke Arah pintu.
Ketika Tengah terlelap, Rawi mulai bermimpi. Tepat Di pintu kamarnya, dia melihat sosok pocong berdiri Di sana. Rawi terkejut. Ia terbangun. Dilihatnya pintu kamarnya.
Kosong. Tak Ada siapa-siapa Di sana. Dia bernafas lega. Kemudian dia mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang. Dan kembali tidur.
Dia kembali bermimpi. Pocong Yang tadinya Ada Di pintu, sekarang semakin mendekat. Ia kini berada Di tengah Ruang kamarnya. Rawi kembali terbangun. Dengan jantung berdegub kencang.
'lagi-lagi mimpi..'
Ia menghela nafas panjang.
Rawi sekali lagi, mengubah posisi tidurnya, menjadi miring ke Kiri, membelakangi pintu. Dan untuk yang ketiga kalinya, dia bermimpi, melihat sosok pocong itu, kini Sudah berdiri Di samping tempat tidurnya.
Spontan ia terbangun. Dan Yang terjadi adalah.. ia tetap berada pada posisi tidur Yang sama, Saat pertama Kali dia tidur. Yaitu, miring ke Arah kanan, menghadap pintu.
Ketika Tengah terlelap, Rawi mulai bermimpi. Tepat Di pintu kamarnya, dia melihat sosok pocong berdiri Di sana. Rawi terkejut. Ia terbangun. Dilihatnya pintu kamarnya.
Kosong. Tak Ada siapa-siapa Di sana. Dia bernafas lega. Kemudian dia mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang. Dan kembali tidur.
Dia kembali bermimpi. Pocong Yang tadinya Ada Di pintu, sekarang semakin mendekat. Ia kini berada Di tengah Ruang kamarnya. Rawi kembali terbangun. Dengan jantung berdegub kencang.
'lagi-lagi mimpi..'
Ia menghela nafas panjang.
Rawi sekali lagi, mengubah posisi tidurnya, menjadi miring ke Kiri, membelakangi pintu. Dan untuk yang ketiga kalinya, dia bermimpi, melihat sosok pocong itu, kini Sudah berdiri Di samping tempat tidurnya.
Spontan ia terbangun. Dan Yang terjadi adalah.. ia tetap berada pada posisi tidur Yang sama, Saat pertama Kali dia tidur. Yaitu, miring ke Arah kanan, menghadap pintu.
Real Story - Mimpi 1 (Tanda)
Menginjak usia 17 tahun, Rawi dan keluarganya terpaksa pindah Rumah Kontrakan. Mereka pindah beberapa Blok Dari rumah lama.
Di Rumah Yang Baru ini, Rawi terbilang jarang bersinggungan dengan hal-hal ghaib. Justru ibunyalah Yang lebih sering mengalaminya. Seperti misalnya, saat sedang membuat pesanan kue Di tengah Malam, Dari sudut mata ibunya seperti melihat Ada kucing berwarna putih Yang sedang duduk menemaninya Di depan pintu dapur.
Ibunya tidak merasa takut. Bahkan, dia malah berkata, "kalau mau nemenin boleh, tapi jangan ganggu yaa.."
Tapi Di suatu Malam, ketika Rawi sedang tertidur lelap, ia bermimpi mimpi Yang tidak masuk akal, namun menjadi misteri baginya.
Ia bermimpi, Di Dalam Rumah, ia sedang berlari Karena dikejar kuntilanak. Namun begitu dia berlari, Di depannya Sudah muncul kuntilanak Yang lain. Dia berbalik arah, kembali berlari, namun kuntilanak Yang pertama kembali menghalangi jalannya. Lalu, dia seperti merasa berguncang-guncang.
Si kuntilanak berkata, "Tunggu, tunggu. Itu Siapa sih, Yang nendang-nendang kasur?"
Rawi melihat ke arah Yang ditunjuk. Terlihat sosok pocong, sedang loncat-loncat menabrak-nabrak kasur. Pocong itu terlihat berbeda. Matanya tertutup Kain. Di lehernya dikalungkan kayu, dengan ukiran tulisan Yang Rawi tidak mengerti.
Rawi berteriak. Tiba-tiba kuntilanak menghilang, berganti dengan ibunya. Ibunya menyuruh Rawi untuk lari. Mereka berdua berlari tak menentu. Sampai ibunya berkata, "Cari papan nisannya, supaya dia bisa tenang!"
Rawi menuruti. Dia mencari papan nisan Dari sosok pocong itu. Dan dia menemukannya. Di laci lemari bajunya. Papan nisan Tanpa nama. Hanya Ada tanggal kematian Dari si pemilik nisan. Dan benar Saja, pocong tersebut langsung menghilang.
Rawi terbangun. Ia Masih mengingat jelas mimpi tersebut. Terutama.., tanggal kematian si pocong. 24 Maret 2006. Dia menjadi sangat kepikiran. Pasalnya, Hari ini masih tanggal 10 Maret 2006. Tepat 2 minggu lagi, adalah tanggal 24 Maret 2006.
'Apa Akan Ada Yang meninggal Di tanggal itu?' Rawi tak berani berpikir lebih panjang. Dia hanya bisa berdoa, agar keluarganya selalu dilindungi oleh Allah SWT.
Lepas beberapa Hari Dari kejadian tersebut, Rawi Sama sekali lupa dengan mimpinya.
Hingga...
24 Maret 2006..
Tetangga dekat Ibu Rawi, Yang memang selalu menolong keluarga Rawi saat Ada masalah, mengalami kecelakaan.
Kecelakaan menimpa suami Dari tetangga Ibu Rawi tersebut, Saat pulang Dinas. Beliau adalah seorang polisi mata-mata. Kejadiannya terjadi pada Malam Hari selepas isya. Dan pada pukul 21.00 WIB, beliau dinyatakan meninggal dunia.
Innalillahi wa Inna ilaihi roji'un..
Kesedihan hebat menimpa keluarga tersebut. Apalagi setelah mendengar cerita Dari istrinya, bahwa Hari itu adalah Hari Ulang tahun istrinya. Pagi Hari Saat hendak berangkat Dinas, sang suami berkata pada istrinya, "Ma, selamat Ulang tahun yaa.. kado Dari papa nanti nyusul yaa, jam 9 Malam nanti.."
Pukul 9 Malam, tepat Di waktu itu, suaminya menghembuskan nafas terakhir. Itulah kado Yang dimaksud oleh almarhum suaminya.
Rawi Sama sekali tidak ingat tentang mimpinya, hingga sekitar 3 Hari Dari kejadian naas Yang menimpa tetangganya tersebut, Rawi Baru menyadarinya.
'Ya Allah, ternyata dia Yang meninggal Di tanggal itu..' pikirnya.
Biar bagaimanapun hebatnya manusia, jodoh, rejeki, mati, tetap hanya Allah Yang tahu.
Di Rumah Yang Baru ini, Rawi terbilang jarang bersinggungan dengan hal-hal ghaib. Justru ibunyalah Yang lebih sering mengalaminya. Seperti misalnya, saat sedang membuat pesanan kue Di tengah Malam, Dari sudut mata ibunya seperti melihat Ada kucing berwarna putih Yang sedang duduk menemaninya Di depan pintu dapur.
Ibunya tidak merasa takut. Bahkan, dia malah berkata, "kalau mau nemenin boleh, tapi jangan ganggu yaa.."
Tapi Di suatu Malam, ketika Rawi sedang tertidur lelap, ia bermimpi mimpi Yang tidak masuk akal, namun menjadi misteri baginya.
Ia bermimpi, Di Dalam Rumah, ia sedang berlari Karena dikejar kuntilanak. Namun begitu dia berlari, Di depannya Sudah muncul kuntilanak Yang lain. Dia berbalik arah, kembali berlari, namun kuntilanak Yang pertama kembali menghalangi jalannya. Lalu, dia seperti merasa berguncang-guncang.
Si kuntilanak berkata, "Tunggu, tunggu. Itu Siapa sih, Yang nendang-nendang kasur?"
Rawi melihat ke arah Yang ditunjuk. Terlihat sosok pocong, sedang loncat-loncat menabrak-nabrak kasur. Pocong itu terlihat berbeda. Matanya tertutup Kain. Di lehernya dikalungkan kayu, dengan ukiran tulisan Yang Rawi tidak mengerti.
Rawi berteriak. Tiba-tiba kuntilanak menghilang, berganti dengan ibunya. Ibunya menyuruh Rawi untuk lari. Mereka berdua berlari tak menentu. Sampai ibunya berkata, "Cari papan nisannya, supaya dia bisa tenang!"
Rawi menuruti. Dia mencari papan nisan Dari sosok pocong itu. Dan dia menemukannya. Di laci lemari bajunya. Papan nisan Tanpa nama. Hanya Ada tanggal kematian Dari si pemilik nisan. Dan benar Saja, pocong tersebut langsung menghilang.
Rawi terbangun. Ia Masih mengingat jelas mimpi tersebut. Terutama.., tanggal kematian si pocong. 24 Maret 2006. Dia menjadi sangat kepikiran. Pasalnya, Hari ini masih tanggal 10 Maret 2006. Tepat 2 minggu lagi, adalah tanggal 24 Maret 2006.
'Apa Akan Ada Yang meninggal Di tanggal itu?' Rawi tak berani berpikir lebih panjang. Dia hanya bisa berdoa, agar keluarganya selalu dilindungi oleh Allah SWT.
Lepas beberapa Hari Dari kejadian tersebut, Rawi Sama sekali lupa dengan mimpinya.
Hingga...
24 Maret 2006..
Tetangga dekat Ibu Rawi, Yang memang selalu menolong keluarga Rawi saat Ada masalah, mengalami kecelakaan.
Kecelakaan menimpa suami Dari tetangga Ibu Rawi tersebut, Saat pulang Dinas. Beliau adalah seorang polisi mata-mata. Kejadiannya terjadi pada Malam Hari selepas isya. Dan pada pukul 21.00 WIB, beliau dinyatakan meninggal dunia.
Innalillahi wa Inna ilaihi roji'un..
Kesedihan hebat menimpa keluarga tersebut. Apalagi setelah mendengar cerita Dari istrinya, bahwa Hari itu adalah Hari Ulang tahun istrinya. Pagi Hari Saat hendak berangkat Dinas, sang suami berkata pada istrinya, "Ma, selamat Ulang tahun yaa.. kado Dari papa nanti nyusul yaa, jam 9 Malam nanti.."
Pukul 9 Malam, tepat Di waktu itu, suaminya menghembuskan nafas terakhir. Itulah kado Yang dimaksud oleh almarhum suaminya.
Rawi Sama sekali tidak ingat tentang mimpinya, hingga sekitar 3 Hari Dari kejadian naas Yang menimpa tetangganya tersebut, Rawi Baru menyadarinya.
'Ya Allah, ternyata dia Yang meninggal Di tanggal itu..' pikirnya.
Biar bagaimanapun hebatnya manusia, jodoh, rejeki, mati, tetap hanya Allah Yang tahu.
Real Story - Mukena
Lebaran idul fitri menjadi moment yang sangat dinanti oleh semua orang, termasuk para perantau. Itu adalah moment untuk mudik, bertemu orang Tua, kakek nenek, kakak adik, Dan saudara lainnya.
Begitu juga Rawi dan keluarganya. H-7 idul fitri, Rawi Sudah berada Di kampung halaman Di daerah Pati, Jawa Tengah. Saat itu usia Rawi Sudah menginjak 17 tahun.
Rumah nenek Rawi terbilang Masih sangat klasik. Bagian depan Ada teras dengan 2 bangku kayu. Lalu Ruang tamu dengan sofa set. Kemudian Ada 3 anak tangga menuju Ruang TV. Di samping kanan Dan kiri Ruang TV, Ada kamar. Yang sebelah kiri, hanya terdapat 1 pintu. Yang sebelah kanan, Ada 2 pintu dengan kamar memanjang, Dan Ada 1 kamar kecil. Masing-masing pintu kamar ditutupi dengan gorden.
Kemudian Ada pintu Yang membatasi dengan Ruang makan. Di sebelah Ruang makan, Ada semacam kamar kecil dengan dipan Tanpa kasur. Dulunya, Saat kakek Dan nenek Rawi Masih muda, kamar itu digunakan untuk menaruh hasil panen buah, ataupun stock Bahan makanan. Sekarang, kamar itu dibiarkan kosong, untuk menaruh beberapa barang tidak terpakai. Kamar ini pun pintunya ditutupi dengan gorden. Setelah Ruang makan, Ada pintu lagi Yang membatasi dengan dapur Dan kamar Mandi.
Suatu Siang, Saat adzan dzuhur berkumandang, Rawi dengan sigap langsung menuju kamar Mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah itu ia langsung menuju Ruang Tengah, kemudian masuk ke kamar tantenya Yang Ada Di sebelah kanan Ruang TV untuk sholat Di sana. Selesai Sholat, Rawi keluar Dari kamar, Dan berdiri Di pintu antara Ruang Tengah dengan Ruang makan.
Sekelebat, Rawi melihat kibasan Mukena masuk ke kamar kecil Di sebelah Ruang makan. Hanya ujung Kain Mukena Yang Rawi lihat.
Rawi tidak punya pikiran apa-apa. Hanya sedikit heran, 'siapa Yang Sholat Di kamar itu? Tumben banget. Apa tante In yaa?' pikirnya.
Dia lama berdiri Di situ, sengaja menunggu untuk melihat Siapa orang Yang tadi masuk. Lama dia menunggu, namun orang itu tak kunjung keluar. Sampai pada akhirnya.., dia penasaran.
Dia berjalan menuju kamar itu. Pelan-pelan dia membuka gorden kamar itu. Dan ternyata...
Pintu kamar itu tertutup. Rapat.
'aneh' pikirnya, 'padahal tadi tidak Ada suara pintu tertutup.'
Kemudian, dia membuka pintu kamar tersebut. Dan..., Nyatanya.. Di kamar tersebut, TIDAK ADA SIAPA-SIAPA.
Rawi terkejut. Dia memastikan pada dirinya sendiri, bahwa dia tidak Salah lihat. Dia benar-benar melihat Ada sekelebat Mukena masuk ke kamar ini.
'apa mungkin gue Salah Liat Kali ya? APA itu gorden Yang gue Liat yaa?'
Rawi berusaha memastikan logika pada kejadian ini. Tapi sekali lagi, itu TIDAK MUNGKIN. Karena warna Mukena Yang Rawi lihat adalah putih, sedangkan warna gorden pintu adalah cokelat. Rawi berusaha mencari warna putih Di sekitar pintu. Namun tidak Ada.
Jadi, Siapa wanita pemakai Mukena Yang dilihat Rawi masuk ke Dalam kamar kecil?
Begitu juga Rawi dan keluarganya. H-7 idul fitri, Rawi Sudah berada Di kampung halaman Di daerah Pati, Jawa Tengah. Saat itu usia Rawi Sudah menginjak 17 tahun.
Rumah nenek Rawi terbilang Masih sangat klasik. Bagian depan Ada teras dengan 2 bangku kayu. Lalu Ruang tamu dengan sofa set. Kemudian Ada 3 anak tangga menuju Ruang TV. Di samping kanan Dan kiri Ruang TV, Ada kamar. Yang sebelah kiri, hanya terdapat 1 pintu. Yang sebelah kanan, Ada 2 pintu dengan kamar memanjang, Dan Ada 1 kamar kecil. Masing-masing pintu kamar ditutupi dengan gorden.
Kemudian Ada pintu Yang membatasi dengan Ruang makan. Di sebelah Ruang makan, Ada semacam kamar kecil dengan dipan Tanpa kasur. Dulunya, Saat kakek Dan nenek Rawi Masih muda, kamar itu digunakan untuk menaruh hasil panen buah, ataupun stock Bahan makanan. Sekarang, kamar itu dibiarkan kosong, untuk menaruh beberapa barang tidak terpakai. Kamar ini pun pintunya ditutupi dengan gorden. Setelah Ruang makan, Ada pintu lagi Yang membatasi dengan dapur Dan kamar Mandi.
Suatu Siang, Saat adzan dzuhur berkumandang, Rawi dengan sigap langsung menuju kamar Mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah itu ia langsung menuju Ruang Tengah, kemudian masuk ke kamar tantenya Yang Ada Di sebelah kanan Ruang TV untuk sholat Di sana. Selesai Sholat, Rawi keluar Dari kamar, Dan berdiri Di pintu antara Ruang Tengah dengan Ruang makan.
Sekelebat, Rawi melihat kibasan Mukena masuk ke kamar kecil Di sebelah Ruang makan. Hanya ujung Kain Mukena Yang Rawi lihat.
Rawi tidak punya pikiran apa-apa. Hanya sedikit heran, 'siapa Yang Sholat Di kamar itu? Tumben banget. Apa tante In yaa?' pikirnya.
Dia lama berdiri Di situ, sengaja menunggu untuk melihat Siapa orang Yang tadi masuk. Lama dia menunggu, namun orang itu tak kunjung keluar. Sampai pada akhirnya.., dia penasaran.
Dia berjalan menuju kamar itu. Pelan-pelan dia membuka gorden kamar itu. Dan ternyata...
Pintu kamar itu tertutup. Rapat.
'aneh' pikirnya, 'padahal tadi tidak Ada suara pintu tertutup.'
Kemudian, dia membuka pintu kamar tersebut. Dan..., Nyatanya.. Di kamar tersebut, TIDAK ADA SIAPA-SIAPA.
Rawi terkejut. Dia memastikan pada dirinya sendiri, bahwa dia tidak Salah lihat. Dia benar-benar melihat Ada sekelebat Mukena masuk ke kamar ini.
'apa mungkin gue Salah Liat Kali ya? APA itu gorden Yang gue Liat yaa?'
Rawi berusaha memastikan logika pada kejadian ini. Tapi sekali lagi, itu TIDAK MUNGKIN. Karena warna Mukena Yang Rawi lihat adalah putih, sedangkan warna gorden pintu adalah cokelat. Rawi berusaha mencari warna putih Di sekitar pintu. Namun tidak Ada.
Jadi, Siapa wanita pemakai Mukena Yang dilihat Rawi masuk ke Dalam kamar kecil?
Real Story - Angin
Masih Di kamar Yang sama, kamar belakang milik ibunya. Saat ini Rawi sedang mencoba untuk menulis sebuah cerita. Ibunya sedang menyapu Di Ruang Tengah. Bedanya, Kali ini pintu kamar sengaja dia tutup.
Di saat sedang seriusnya memilah kata untuk ceritanya, tiba-tiba.. sesuatu meniup telinga kirinya. Kaget, dia langsung menutup telinganya, lalu menengok ke Arah Kiri. Kosong, tidak Ada siapa-siapa.
Hanya kipas angin duduk yang letaknya sekitar 2 meter Dari tempatnya duduk. Rawi mencari-cari alasan Yang masuk akal. Namun ia tidak menemukannya.
'Kipas angin? Ga mungkin, anginnya ga sekenceng itu. Ini niupnya bener-bener kayak Ada orang Yang niup Di samping kuping gue' ,katanya Dalam hati.
'Oke, fixed, ini bukan sesuatu Yang wajar. Keep calm, jangan takut'.
Namun, meski hatinya menginstruksikan untuk tidak takut, tetap Saja jantungnya makin kuat berdegub. Rawi merasakan hawa Di kamarnya semakin tidak enak.
Pada akhirnya, dia mengambil langkah seribu. Dia melihat ibunya telah berpindah menyapu Di teras. Melihat putri sulungnya seperti ketakutan, ibunya pun bertanya.
"Kenapa sih kamu Ka?"
"Ada yang niup kuping Rawi bu."
"Ah, masa sih! Kipas Kali ka."
"Ga mungkin bu! Itu rasanya bener-bener kayak Ada orang Yang niup kuping Dari deket. Kipas ga mungkin bisa niup sekuat itu."
"Ya udah, Coba Kita cek."
Rawi dan ibunya kembali masuk ke Dalam kamar belakang. Namun mereka tidak menemukan siapapun, apapun.
Real Story - Ibu..? BUKAN Ibu..
Saat itu Rawi sedang sendiri Di kamar Ibunya. Membaca novel kesukaannya. Adiknya Ladi, sedang bersekolah. Sedangkan ibunya, mungkin sibuk Di dapur.
Rawi dan keluarganya tinggal di Rumah type 36, dengan 2 kamar tidur. Kamar tidur depan, dan kamar tidur belakang. Keduanya dipisahkan oleh kamar Mandi. Kamar tidur belakang, bersebelahan dengan dapur. Ruang Tengah Dan Ruang tamu, terhubung langsung Tanpa sekat.
Tanpa Ada perasaan apa-apa, Rawi melihat dengan sudut matanya, Ada seseorang Yang melintas Dari luar ke Arah dapur. Kebetulan pintu kamar memang dibiarkan terbuka.
'Ibu ya?' katanya Dalam hati. Tanpa dihiraukan, ia kembali membaca novel Di tangannya. Orang itu kembali melintas. Kali ini Dari Arah dapur menuju keluar.
Jantung Rawi mulai berdegub lebih cepat. Ia mulai menangkap satu keanehan. Ibu Rawi berperawakan tidak terlalu tinggi, tetapi orang Yang telah 2 Kali melintas tadi, punya perawakan Yang tinggi. Lagipula..., Yang melintas tadi, sepertinya laki-laki. Seperti memakai baju Dan celana hitam. Rawi tidak bisa memastikan.
'Ibu, ngapain sih?' pikirnya. Ia menepis semua pikiran aneh. Ia Masih berpikir logis. Itu pasti ibunya Yang habis mengambil sesuatu Dari dapur.
Rawi kembali melanjutkan kegiatannya. Tapi, sekali lagi, sosok itu kembali melintas, untuk Yang ketiga kalinya. Melintas Dari luar, ke Arah dapur. Seperti memberi kesan, bahwa, "AKU BUKAN IBUMU".
Jantung Rawi semakin tak terkontrol. Rawi bisa memastikan, itu BUKAN Ibu. Sosok itu laki-laki tinggi dengan pakaian Serba hitam. Rawi meletakkan novel Di tangannya ke atas kasur. Perlahan is berjalan keluar kamar.
Lalu ia menengok ke Arah dapur. Dan ternyata.... Ibu Rawi tidak Ada Di dapur. Lalu Rawi keluar. Dan benar Saja, ibunya sedang Ada Di luar, mengobrol dengan tetangganya.
Rawi dan keluarganya tinggal di Rumah type 36, dengan 2 kamar tidur. Kamar tidur depan, dan kamar tidur belakang. Keduanya dipisahkan oleh kamar Mandi. Kamar tidur belakang, bersebelahan dengan dapur. Ruang Tengah Dan Ruang tamu, terhubung langsung Tanpa sekat.
Tanpa Ada perasaan apa-apa, Rawi melihat dengan sudut matanya, Ada seseorang Yang melintas Dari luar ke Arah dapur. Kebetulan pintu kamar memang dibiarkan terbuka.
'Ibu ya?' katanya Dalam hati. Tanpa dihiraukan, ia kembali membaca novel Di tangannya. Orang itu kembali melintas. Kali ini Dari Arah dapur menuju keluar.
Jantung Rawi mulai berdegub lebih cepat. Ia mulai menangkap satu keanehan. Ibu Rawi berperawakan tidak terlalu tinggi, tetapi orang Yang telah 2 Kali melintas tadi, punya perawakan Yang tinggi. Lagipula..., Yang melintas tadi, sepertinya laki-laki. Seperti memakai baju Dan celana hitam. Rawi tidak bisa memastikan.
'Ibu, ngapain sih?' pikirnya. Ia menepis semua pikiran aneh. Ia Masih berpikir logis. Itu pasti ibunya Yang habis mengambil sesuatu Dari dapur.
Rawi kembali melanjutkan kegiatannya. Tapi, sekali lagi, sosok itu kembali melintas, untuk Yang ketiga kalinya. Melintas Dari luar, ke Arah dapur. Seperti memberi kesan, bahwa, "AKU BUKAN IBUMU".
Jantung Rawi semakin tak terkontrol. Rawi bisa memastikan, itu BUKAN Ibu. Sosok itu laki-laki tinggi dengan pakaian Serba hitam. Rawi meletakkan novel Di tangannya ke atas kasur. Perlahan is berjalan keluar kamar.
Lalu ia menengok ke Arah dapur. Dan ternyata.... Ibu Rawi tidak Ada Di dapur. Lalu Rawi keluar. Dan benar Saja, ibunya sedang Ada Di luar, mengobrol dengan tetangganya.
Rabu, 07 Agustus 2019
Real Story - Jelangkung
Di tahun 2000-an, permainan jelangkung sempat menjadi permainan viral Di kalangan anak-anak. Bukan jelangkung Yang dibuat Dari kayu Dan batok kelapa. Hanya jelangkung Yang dimainkan dengan kertas Dan koin, atau pulpen. Mungkin Karena Saat itu, film Jelangkung sedang Naik daun.
Rawi pun tidak mau ketinggalan. Entah dengan teman sekelasnya, ataupun dengan teman Di rumahnya, dia terbilang cukup penasaran dengan permainan mistis ini.
Di sekolah, setiap jam istirahat, Rawi langsung berkumpul dengan beberapa teman sekelasnya. Dan bermain jelangkung. Tapi Karena banyaknya tangan, ia jadi tidak tahu, apakah koinnya benar-benar bergerak sendiri, atau Ada temannya Yang jahil Yang menggerakkannya.
Sampai suatu Hari....
"Wi, ngumpet Di Rumah lo deh", kata Fivi.
"Lo lagi main ama Siapa sih?" Tanya Rawi.
"Si Hedi. Ayok, buruan!"
Rawi dan Fivi pun masuk ke Rumah Rawi, dan bersembunyi Di kamar depan. Fivi menutup pintu, Dan juga gorden jendela kamar. Sehingga kamar menjadi gelap gulita, Karena tidak menyalakan lampu. Hanya sedikit cahaya Dari matahari Yang menembus gorden jendela.
"Eh, main jelangkung yuk!" Ajak Rawi. Fivi yang sedang fokus mengintip Di jendela, hanya asal meng-iya-kan ajakan Rawi.
"Iya, lo bikin Aja dulu tulisannya," kata Fivi Tanpa menoleh.
Akhirnya Rawi membuat tulisan huruf-huruf abjad Dari A-Z, angka Dari 0-10, Dan tulisan IYA-TIDAK, selayaknya Yang Ada Di permainan jelangkung.
"Eh, udh kelar ni.. ayok main.. tapi pake pulpen aja ya, gue ga Ada koin," kata Rawi.
Fivi kemudian mendatangi Rawi. Mereka memegang pulpen dengan telunjuknya. Kemudian membaca mantra. Tapi, pulpen Sama sekali tidak bergerak.
Dari Arah luar, samar-samar terdengar suara Hedi. Sontak Fivi langsung lari menuju jendela kamar, Dan mengintip.
"Ayok, main lagi," ajak Rawi.
"Lo maen sendiri dulu Aja, gue lagi ngeliatin Hedi."
Akhirnya, Rawi memutuskan untuk bermain sendiri. Dia pun mulai membaca mantra...
Jelangkung jelangse,
Disini Ada pesta kecil-kecilan,
Datang tak dijemput,
Pulang tak diantar.
Karena Sudah terlalu sering tidak berhasil memanggil, Rawi pun tidak punya perasaan apa-apa Saat itu.
Tapi setelah kedua kalinya membaca mantra...
Tiba-tiba, pulpen yang sedang dipegang Rawi Dalam posisi berdiri, berjalan dengan sendirinya..
Tanpa digerakkan..
Tanpa direkayasa..
Pulpen itu, hanya berjalan lurus.
Perlahan-lahan.
Rawi terkejut. Dia hanya bengong melihat pulpen yang dia pegang berjalan dengan sendirinya. Lalu, dengan mengerahkan keberaniannya, dia bertanya..
"Namamu Siapa?"
Namun, pulpen itu tidak memberi jawaban apapun. Ia hanya terus berjalan lurus, meninggalkan tinta panjang Di belakangnya.
"Namamu Siapa?" Rawi bertanya untuk kedua kalinya.
Pulpen tersebut tetap hanya berjalan lurus. Tidak menunjuk ke huruf, atau angka mana pun. Rawi menjadi ketakutan. Dia ingin memanggil Fivi yang Masih mengintip Di jendela, namun ia tidak bisa.
Akhirnya, ia memutuskan untuk meremas kertas permainan jelangkung itu. Dan lalu membuangnya, tanpa memberitahu Fivi apapun.
Sejak Hari itu, Rawi tidak lagi penasaran dengan permainan jelangkung. Setiap diajak temannya, ia tidak mau ikut. Ia Sudah merasakan, kehadiran 'yang lain' Saat itu.
Real Story - 17 Agustus 1999
Untuk memeriahkan Ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, sudah menjadi kebiasaan warga di Perumahan Pondok Indigo membuat acara ramah tamah warga, khususnya warga Jl. Kenanga, Yang digelar Saat Malam Hari.
Para Bapak-bapak Akan menggelar tikar untuk sekedar mengobrol Dan ngopi. Para Ibunya, memasak kerang rebus Yang nantinya dicocok dengan saus. Dan anak-anaknya, disediakan TV Dan DVD untuk menonton bersama. Malam itu, tidak ada jam Malam untuk anak-anak. Mereka bebas bermain sampai baterainya habis.
Saat TV mulai dipasang, semua anak Sudah mengambil bangku masing-masing, Dan meletakan Di depan TV. Rawi dan adiknya Ladi Yang berusia 3 tahun, duduk Di paling pojok sebelah kiri. Dekat dengan tikar tempat Bapak-bapak duduk. Di dekatnya, Ada juga pohon tinggi besar.
Film Yang disetel Sudah mulai. Semua anak fokus melihat TV. Menikmati serunya jalan cerita film. Kecuali Ladi. Entah kenapa, dia lebih tertarik menatap pohon besar Di dekatnya. Rawi Yang tadinya sedang seru melihat TV, menjadi beralih pandang Saat menyadari adiknya Yang tengah melihat ke dahan pohon itu.
'liat apa sih?' pikirnya. Tapi Rawi Sama sekali tidak melihat apa-apa Di sana.
"De Liat apa sih?" Tanya Rawi pada Ladi.
Ladi Yang Masih berusia 3 tahun, tidak menjawab apa-apa.
"Udah, nonton Aja Tu, filmnya bagus", lanjut Rawi. Ladi menuruti perkataan kakaknya. Ia mulai menikmati film Di TV.
Tak lama kemudian, Rawi kembali melihat Ladi. Ternyata, Ladi kembali menatap ke Arah pohon itu. Rawi pun kembali melihat ke Arah pohon itu. Dan sekali lagi.., tidak ada apa-apa. Rawi mulai merinding. Dia mulai sedikit takut. 'Apa sih Yang diliat Ladi?' pikirnya.
"De, udah jangan diliatin, nonton Aja ya.." katanya.
Ladi kembali menuruti perkataan Rawi. Tapi untuk ketiga kalinya, tidak lama setelah itu, Saat Rawi kembali melihat adiknya.... Adiknya Ladi, tetap kembali menatap ke Arah pohon besar Di dekatnya. Dan Kali ini, Ladi.. tersenyum.
Rawi semakin ketakutan. Dia lalu melihat lagi, ke Arah pohon itu. Namun, Rawi tetap tidak melihat apapun Di sana. Akhirnya, dengan sigap, Rawi mengajak Ladi untuk pindah tempat ke pojok sebelah kanan.
Setelah pindah ke Sana, Ladi tidak lagi melihat ke Arah pohon, melainkan fokus menonton TV. Rawi menjadi tenang. Yah, meskipun harus dekat dengan tempat sampah. Yang penting, Ladi Sudah tidak bersikap aneh lagi.
Para Bapak-bapak Akan menggelar tikar untuk sekedar mengobrol Dan ngopi. Para Ibunya, memasak kerang rebus Yang nantinya dicocok dengan saus. Dan anak-anaknya, disediakan TV Dan DVD untuk menonton bersama. Malam itu, tidak ada jam Malam untuk anak-anak. Mereka bebas bermain sampai baterainya habis.
Saat TV mulai dipasang, semua anak Sudah mengambil bangku masing-masing, Dan meletakan Di depan TV. Rawi dan adiknya Ladi Yang berusia 3 tahun, duduk Di paling pojok sebelah kiri. Dekat dengan tikar tempat Bapak-bapak duduk. Di dekatnya, Ada juga pohon tinggi besar.
Film Yang disetel Sudah mulai. Semua anak fokus melihat TV. Menikmati serunya jalan cerita film. Kecuali Ladi. Entah kenapa, dia lebih tertarik menatap pohon besar Di dekatnya. Rawi Yang tadinya sedang seru melihat TV, menjadi beralih pandang Saat menyadari adiknya Yang tengah melihat ke dahan pohon itu.
'liat apa sih?' pikirnya. Tapi Rawi Sama sekali tidak melihat apa-apa Di sana.
"De Liat apa sih?" Tanya Rawi pada Ladi.
Ladi Yang Masih berusia 3 tahun, tidak menjawab apa-apa.
"Udah, nonton Aja Tu, filmnya bagus", lanjut Rawi. Ladi menuruti perkataan kakaknya. Ia mulai menikmati film Di TV.
Tak lama kemudian, Rawi kembali melihat Ladi. Ternyata, Ladi kembali menatap ke Arah pohon itu. Rawi pun kembali melihat ke Arah pohon itu. Dan sekali lagi.., tidak ada apa-apa. Rawi mulai merinding. Dia mulai sedikit takut. 'Apa sih Yang diliat Ladi?' pikirnya.
"De, udah jangan diliatin, nonton Aja ya.." katanya.
Ladi kembali menuruti perkataan Rawi. Tapi untuk ketiga kalinya, tidak lama setelah itu, Saat Rawi kembali melihat adiknya.... Adiknya Ladi, tetap kembali menatap ke Arah pohon besar Di dekatnya. Dan Kali ini, Ladi.. tersenyum.
Rawi semakin ketakutan. Dia lalu melihat lagi, ke Arah pohon itu. Namun, Rawi tetap tidak melihat apapun Di sana. Akhirnya, dengan sigap, Rawi mengajak Ladi untuk pindah tempat ke pojok sebelah kanan.
Setelah pindah ke Sana, Ladi tidak lagi melihat ke Arah pohon, melainkan fokus menonton TV. Rawi menjadi tenang. Yah, meskipun harus dekat dengan tempat sampah. Yang penting, Ladi Sudah tidak bersikap aneh lagi.
Real Story - Siapa Yang Manggil?
Tahun 2000
Malam minggu memang menjadi malam Yang paling ditunggu-tunggu oleh Rawi, anak berusia 11 tahun. Hanya Di waktu itulah, dia bisa bermain bersama teman-temannya Yang lain. Meski tetap diberlakukan jam Malam oleh bapaknya.
Anak-anak yang lahir tahun 89-90an, Masih bisa menikmati serunya permainan traditional. Seperti main lompat karet, petak umpet, kejar-kejaran, sampai bercerita cerita horor.
Malam itu semua teman Rawi keluar untuk bermain, kecuali Fivi. Entah kenapa, rumahnya pun gelap gulita, mungkin sedang pergi ke Rumah Neneknya.
Pukul 21.00 WIB, Rawi berpamit pulang. Dia tidak mau sampai lewat Dari jam itu. Karena pernah suatu Hari Rawi pulang ke Rumah 21.10 WIB. Tapi pintu Rumah Sudah dikunci Sama bapaknya. Meskipun akhirnya pintu dibukakan, tapi dia tidak mau sampai mengalami kejadian itu lagi. Bapaknya memang orang Yang tegas Dan keras.
Sampai Di Rumah, Ibu Rawi tiba-tiba memanggil.
"Wi, tolong beliin terigu ya, ke warung bulek. Ibu lupa beli, terigunya habis."
Kebetulan memang ibunya Rawi setiap harinya membuat kue Dan gorengan, untuk dititipkan ke warung-warung Di pagi Hari.
Dengan sedikit berat Hati Karena Sudah lelah bermain juga, Rawi menuruti perintah ibunya. Dia berjalan sedikit cepat menuju warung, Yang letaknya selisih 5 Rumah Dari rumahnya. Beruntung warung bulek Belum tutup.
Setelah mendapatkan pesanan Ibu, dengan setengah berlari, Rawi pulang menuju rumahnya. Sampai Di pertengahan jalan, Saat melintasi Rumah Fivi...
"Rawi!!" Terdengar suara keras Fivi memanggil Rawi.
Rawi berhenti seketika Tanpa menjawab.
'Fivi manggil?' katanya Dalam hati. 'Kenapa ya? Ah, pasti mau ngerjain gw.'
Rawi tersenyum-senyum tipis mengetahui rencana Fivi yang ingin mengerjainya. Dia mencari sumber suara Yang tadi memanggilnya.
'Ngumpet dimana ni anak? Eh, tapi kok sepi yaa.. gelap banget lagi.'
Senyum Rawi mulai memudar, seiring dengan sadarnya dia Akan sesuatu.
'tunggu, Fivi Kan tadi ga main. Katanya lagi pergi ke Rumah Neneknya. Terus.., Yang tadi manggil gue Siapa dong?!'
Tanpa pikir panjang Rawi langsung mengambil langkah seribu menuju rumahnya. Dia langsung masuk, Dan mengunci pintu Rumah.
Rawi bersyukur, Malam itu dia tidak melihat hal-hal aneh. Meski Masih menjadi misteri Dalam benaknya, 'Tadi gue jelas banget denger, itu suaranya Fivi. Tapi Kan Fivi lagi pergi. Jadi tadi itu, Siapa Yang manggil?'
Malam minggu memang menjadi malam Yang paling ditunggu-tunggu oleh Rawi, anak berusia 11 tahun. Hanya Di waktu itulah, dia bisa bermain bersama teman-temannya Yang lain. Meski tetap diberlakukan jam Malam oleh bapaknya.
Anak-anak yang lahir tahun 89-90an, Masih bisa menikmati serunya permainan traditional. Seperti main lompat karet, petak umpet, kejar-kejaran, sampai bercerita cerita horor.
Malam itu semua teman Rawi keluar untuk bermain, kecuali Fivi. Entah kenapa, rumahnya pun gelap gulita, mungkin sedang pergi ke Rumah Neneknya.
Pukul 21.00 WIB, Rawi berpamit pulang. Dia tidak mau sampai lewat Dari jam itu. Karena pernah suatu Hari Rawi pulang ke Rumah 21.10 WIB. Tapi pintu Rumah Sudah dikunci Sama bapaknya. Meskipun akhirnya pintu dibukakan, tapi dia tidak mau sampai mengalami kejadian itu lagi. Bapaknya memang orang Yang tegas Dan keras.
Sampai Di Rumah, Ibu Rawi tiba-tiba memanggil.
"Wi, tolong beliin terigu ya, ke warung bulek. Ibu lupa beli, terigunya habis."
Kebetulan memang ibunya Rawi setiap harinya membuat kue Dan gorengan, untuk dititipkan ke warung-warung Di pagi Hari.
Dengan sedikit berat Hati Karena Sudah lelah bermain juga, Rawi menuruti perintah ibunya. Dia berjalan sedikit cepat menuju warung, Yang letaknya selisih 5 Rumah Dari rumahnya. Beruntung warung bulek Belum tutup.
Setelah mendapatkan pesanan Ibu, dengan setengah berlari, Rawi pulang menuju rumahnya. Sampai Di pertengahan jalan, Saat melintasi Rumah Fivi...
"Rawi!!" Terdengar suara keras Fivi memanggil Rawi.
Rawi berhenti seketika Tanpa menjawab.
'Fivi manggil?' katanya Dalam hati. 'Kenapa ya? Ah, pasti mau ngerjain gw.'
Rawi tersenyum-senyum tipis mengetahui rencana Fivi yang ingin mengerjainya. Dia mencari sumber suara Yang tadi memanggilnya.
'Ngumpet dimana ni anak? Eh, tapi kok sepi yaa.. gelap banget lagi.'
Senyum Rawi mulai memudar, seiring dengan sadarnya dia Akan sesuatu.
'tunggu, Fivi Kan tadi ga main. Katanya lagi pergi ke Rumah Neneknya. Terus.., Yang tadi manggil gue Siapa dong?!'
Tanpa pikir panjang Rawi langsung mengambil langkah seribu menuju rumahnya. Dia langsung masuk, Dan mengunci pintu Rumah.
Rawi bersyukur, Malam itu dia tidak melihat hal-hal aneh. Meski Masih menjadi misteri Dalam benaknya, 'Tadi gue jelas banget denger, itu suaranya Fivi. Tapi Kan Fivi lagi pergi. Jadi tadi itu, Siapa Yang manggil?'
Langganan:
Postingan (Atom)