Rawi pun tidak mau ketinggalan. Entah dengan teman sekelasnya, ataupun dengan teman Di rumahnya, dia terbilang cukup penasaran dengan permainan mistis ini.
Di sekolah, setiap jam istirahat, Rawi langsung berkumpul dengan beberapa teman sekelasnya. Dan bermain jelangkung. Tapi Karena banyaknya tangan, ia jadi tidak tahu, apakah koinnya benar-benar bergerak sendiri, atau Ada temannya Yang jahil Yang menggerakkannya.
Sampai suatu Hari....
"Wi, ngumpet Di Rumah lo deh", kata Fivi.
"Lo lagi main ama Siapa sih?" Tanya Rawi.
"Si Hedi. Ayok, buruan!"
Rawi dan Fivi pun masuk ke Rumah Rawi, dan bersembunyi Di kamar depan. Fivi menutup pintu, Dan juga gorden jendela kamar. Sehingga kamar menjadi gelap gulita, Karena tidak menyalakan lampu. Hanya sedikit cahaya Dari matahari Yang menembus gorden jendela.
"Eh, main jelangkung yuk!" Ajak Rawi. Fivi yang sedang fokus mengintip Di jendela, hanya asal meng-iya-kan ajakan Rawi.
"Iya, lo bikin Aja dulu tulisannya," kata Fivi Tanpa menoleh.
Akhirnya Rawi membuat tulisan huruf-huruf abjad Dari A-Z, angka Dari 0-10, Dan tulisan IYA-TIDAK, selayaknya Yang Ada Di permainan jelangkung.
"Eh, udh kelar ni.. ayok main.. tapi pake pulpen aja ya, gue ga Ada koin," kata Rawi.
Fivi kemudian mendatangi Rawi. Mereka memegang pulpen dengan telunjuknya. Kemudian membaca mantra. Tapi, pulpen Sama sekali tidak bergerak.
Dari Arah luar, samar-samar terdengar suara Hedi. Sontak Fivi langsung lari menuju jendela kamar, Dan mengintip.
"Ayok, main lagi," ajak Rawi.
"Lo maen sendiri dulu Aja, gue lagi ngeliatin Hedi."
Akhirnya, Rawi memutuskan untuk bermain sendiri. Dia pun mulai membaca mantra...
Jelangkung jelangse,
Disini Ada pesta kecil-kecilan,
Datang tak dijemput,
Pulang tak diantar.
Karena Sudah terlalu sering tidak berhasil memanggil, Rawi pun tidak punya perasaan apa-apa Saat itu.
Tapi setelah kedua kalinya membaca mantra...
Tiba-tiba, pulpen yang sedang dipegang Rawi Dalam posisi berdiri, berjalan dengan sendirinya..
Tanpa digerakkan..
Tanpa direkayasa..
Pulpen itu, hanya berjalan lurus.
Perlahan-lahan.
Rawi terkejut. Dia hanya bengong melihat pulpen yang dia pegang berjalan dengan sendirinya. Lalu, dengan mengerahkan keberaniannya, dia bertanya..
"Namamu Siapa?"
Namun, pulpen itu tidak memberi jawaban apapun. Ia hanya terus berjalan lurus, meninggalkan tinta panjang Di belakangnya.
"Namamu Siapa?" Rawi bertanya untuk kedua kalinya.
Pulpen tersebut tetap hanya berjalan lurus. Tidak menunjuk ke huruf, atau angka mana pun. Rawi menjadi ketakutan. Dia ingin memanggil Fivi yang Masih mengintip Di jendela, namun ia tidak bisa.
Akhirnya, ia memutuskan untuk meremas kertas permainan jelangkung itu. Dan lalu membuangnya, tanpa memberitahu Fivi apapun.
Sejak Hari itu, Rawi tidak lagi penasaran dengan permainan jelangkung. Setiap diajak temannya, ia tidak mau ikut. Ia Sudah merasakan, kehadiran 'yang lain' Saat itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar