Sabtu, 27 April 2019

Elang - Kasih Tak Sampai (Part 2)

Part 2 - Aku dan Elang, tanpa Calistha

Kegiatan penerimaan mahasiswa baru membuatku sedikit lupa dengan kepergian Calistha. Aku dan Elang kebetulan masuk ke kampus yang sama. Entah kenapa Elang tidak mau kuliah bersama Calistha di Belanda. Padahal dari segi ekonomi, aku yakin dia mampu. Kalau kutanyakan, jawabannya selalu ngaco. Tidak punya biayalah, terlalu jauhlah, takut naik pesawatlah. Hingga aku sendiri lelah untuk bertanya.

Kepadatan jadwal membuatku dan Elang menjadi jarang bertemu. Sepertinya hampir 2 bulan ini aku jarang benar-benar bertemu dengannya. Jika bertemu, paling hanya bertegur sapa. 

Hingga setelah semua kegiatan PMB selesai, tepatnya di malam minggu, Elang datang bertamu ke rumahku.

"Yoww, what's up!" sapanya di depan pintu rumah.

"Tumben lo kesini."

"Bete gue."

"Oh jadi kalau bete baru larinya ke gue?"

Elang hanya nyengir kuda. Tanpa aku suruh, dia sudah masuk dan duduk di teras belakang rumah.

"Lo ga diapelin Ka?"

"Lo nanya?"

"Hahahahaha, makanya cepet nyari pacar sono."

"Basi lo! Kalo mau minum ambil sendiri deh!" kataku sambil melangkah dan duduk di depan TV.

Sedikit informasi, aku dulu pernah berpacaran saat kelas X. Tapi tidak bertahan lama, kalau tidak salah hanya sekitar 5 bulan. Kami putus karena aku merasa belum saatnya untuk pacaran. Hingga kini, aku belum mencoba membuka hatiku untuk seseorang. Kalaupun nanti harus, aku ingin lelaki yang tepat, hingga aku tidak perlu merasakan patah hati.

"Boring banget gue. Ngapain ya enaknya?" ujar Elang, yang sekarang ikut duduk di karpet depan TV.

"Streaming mau ga?"

"Boleh juga. Tapi keluar dulu yuk, nyari makan sama cemilan. Laper gue."

Aku mengiyakan. Setelah ganti baju, kami jalan mencari makan malam serta cemilan untuk menemani nonton. Kalau soal yang satu ini, aku dan Elang sangat cocok. Berburu cemilan favorit, kemudian streaming film-film baru di internet.

Malam minggu berikutnya, Elang selalu ke rumahku untuk streaming film-film yang belum kami tonton. 

Hari kamis pagi, tidak sengaja aku bertemu Elang di kantin kampus. Dia sedang duduk berkumpul dengan 4 orang temannya, 2 laki-laki yang sepertinya aku kenal, dan 2 lainnya perempuan yang aku baru lihat wajahnya.

Elang menawariku duduk bersama mereka. Karena akupun sendiri, maka aku mengiyakan tawarannya.

"Eh, kenalin Ka, ini Mia sama Angel. Satu jurusan sama gue. Kalo duo tuyul ini sih gue yakin lo udah kenal." Elang mengenalkan teman-temannya.

Aku menjabat tangan kedua perempuan itu. Entah kenapa, aku merasa mereka agak tidak suka dengan kehadiranku.

"Eh, Elang suka makan bakso engga? Mia kemarin liat ada warung bakso baru deket kos Mia. Rameee banget deh. Mia pengen coba tapi kalau sendiri kan engga enak."

Aku melihat tingkah wanita yang satu ini. Dari tingkahnya aku langsung tahu kalau dia sedang melakukan pdkt pada Elang.

"Elang mau engga makan bakso disana bareng Mia kapan-kapan?"

Aku hanya senyum-senyum mendengarnya. Karena aku tahu, Elang sama sekali tidak suka bakso, jadi pasti dia menolak.

"Oh, boleh tuh.."
Mataku membelalak mendengar jawaban dari Elang. Terlihat Mia sangat senang mendengarnya. "Jadi kapan mau kesana?"

"Pulang kuliah hari ini gimana?"

"Sorry gue ga bisa, udah ada janji." ujar Angel.

"Gue sama Tony juga absen bro. ada JANJI," teman Elang yang seingatku bernama Galuh menimpali, dengan menekankan kata 'janji'. Sepertinya mereka menangkap sikap Mia yang sedang PDKT dengan Elang. Makanya mereka memberikan kesempatan pada Mia dan Elang.

"Yahh, cuma gue sama Elang aja dong," kata Mia berpura-pura kecewa.

"Ya ga pa-pa, next time kita kesana lagi bareng-bareng."

Mia memasang tampang sumringah. Ia terlihat tersipu-sipu.

"Lo bukannya ga suka bakso?" ujarku kesal karena Elang tidak menolak.

"Iya," Elang menjawab santai, "tapi lo kan hobby banget. Jadwal lo hari ini juga sama sama gue kan?"

Aku terkejut mendengar jawaban dari Elang. Jadi dia sebenarnya menerima ajakan Mia karena aku.

"Iya, tapi gue ga bisa. Ada janji."

"Serius? Yah, next time aja deh kalo gitu. G pa-pa kan Mia? Biar bareng-bareng sekalian," kata Elang.

Wajah Mia seketika menjadi suram. Ia mengangguk terpaksa. Dalam hati aku tersenyum melihatnya.

Setelah itu Mia seperti berubah menjadi malas bicara. Bahkan sikapnya padaku berubah menjadi dingin. Begitu juga Angel. Mia wanita yang cantik. Bahkan dia bisa saja bersaing dengan Calistha. Kami mengobrol cukup lama.

"Kalo boleh tau, Kania pacarnya Elang ya?" tanya Mia tiba-tiba.

Wow, aku terkejut. Ternyata dia cukup agresif.

"Iya, pacar. Pacar tersayang." jawab Elang sambil menggenggam tanganku. Bagiku itu biasa.

Aku pun tidak menyanggah. Karena kalau sampai Mia tahu keberadaan pacar Elang yang sekarang ada di luar negeri, bisa-bisa dia makin agresif mengejar Elang.

Dari situ akhirnya seisi kampus tahunya kalau aku ini adalah pacarnya Elang sang primadona kampus. Mereka tidak tahu soal Calistha. Aku dan Elang membiarkan gosip itu menyebar. Karena popularitas Elang di kampus semakin naik. Tapi aku pun tidak lupa menceritakan semua pada Calistha. Dia pun sangat setuju pada ide kami.

Hari-hari kemudian kami jadi seperti layaknya pasangan. Berangkat kuliah bersama, kadang bahkan meskipun Elang tidak ada jadwal ngampus, dia tetap mengantarkanku. Malam minggu pun Elang selalu ke rumahku. Kadang jika Calistha sedang ada waktu, kami VC dengannya.

"Haduhhh, kalo gini terus kapan punya pacar!" ujarku saat VC dengan Calistha. Mereka hanya tertawa mendengarnya.

Jumat, 26 April 2019

Elang - Kasih Tak Sampai (Part 1)

Part 1


"Pokoknya gue titip Elang sama lo Ka. Kalau dia berani main cewek di belakang gue, lo harus jadi orang pertama yang kasih dia pelajaran." Aku mengangguk dengan berderai air mata.

Sahabatku Calistha, yang sudah kukenal selama 6 tahun terakhir, akan melanjutkan kuliah di negeri paman Sam. Dengan segala keterpaksaan, ia pergi meninggalkan keluarganya, aku, dan Elang, pacarnya. 

Sedikit bercerita tentang kami. Aku dan Calistha berkenalan saat masih duduk di bangku SMP. Kami begitu saja menjadi dekat, meskipun berbeda kasta. Ya, Calistha lahir dan besar di keluarga kaya. Bisnis ayahnya menyebar di berbagai kota di Indonesia. Jadi wajar, kalau tuntutan untuk meneruskan studi ke luar negeri harus dipenuhinya.

Sedangkan aku, hanya berasal dari keluarga biasa. Ayahku hanya seorang pegawai biasa, dengan gaji yang biasa, kehidupan yang biasa, dan masalah yang biasa orang biasa alami. 

Menginjak kelas VIII, Calistha berkenalan dengan seorang yang cukup berada juga. Namanya Elang. Tajir melintir sudah pasti, tampan tidak perlu diragukan. Tapi yang lebih pasti, mereka berkenalan atas dasar bisnis ayah mereka. Syukur-syukur, cerita cinta mereka tidak serumit yang ada di sinetron.

Aku, Calistha, dan Elang melewati suka dan duka bersama. Entah kenapa, aku bisa jatuh diantara dua insan yang sedang kasmaran ini. Yang jelas, diantara mereka, aku tidak merasa seperti obat nyamuk. Layaknya persahabatan biasa, hingga aku terkadang ragu, apa benar mereka adalah sepasang kekasih?

Panggilan untuk para penumpang sudah diumumkan. Tangisku dan Calistha semakin pecah. Elang, sedari tadi hanya diam memandang separuh hatinya yang hendak pergi itu. Matanya hanya berkaca-kaca, tanpa ada bulir air mata yang jatuh.

Aku dan Calistha berpelukan untuk yang terakhir kalinya saat itu. Begitu juga Elang. Yang meskipun tersenyum, aku tahu bahwa ia pun pasti sangat sedih.

Lalu Calistha pada akhirnya pergi. Selepas melepas kepergian Calistha, aku dan Elang langsung beranjak pergi meninggalkan bandara.

Sepanjang perjalanan pulang, tangisku masih belum juga mereda. Aku sangat menyayangi sahabatku itu. Dia sahabat terbaik yang pernah aku punya. Makanya kesedihanku ditinggal pergi olehnya, sulit untuk dihilangkan.

"Mau nangis sampe kapan sih lo?" tanya Elang sambil mengemudi.

"Lo sebenernya pacarnya Calistha bukan sih? Ceweknya pergi kayak ga ada sedih-sedihnya."

"Ya gue juga sedih, tapi kalopun nangis gue ga akan bisa merubah keadaan kan? Toh Calistha juga bakal balik."

"Ya tapi kan hari-hari kita bakal beda tanpa Calistha!" Tangisku kembali pecah.

"Serah lo deh Ka." Kata Elang cuek.

Hahhh, saat itu aku tidak bisa membayangkan, seperti apa hidupku tanpa si bawel Calistha.

Elang - Kasih Tak Sampai (PROLOG)

PROLOG

Kenapa harus mencintai jika tak bisa bersama?

Memilikimu tak semudah mencintaimu. Mungkin ini kalimat yang tepat untuk kisah cinta yang akan kubagikan. Aku bisa memaksakan, tapi pada akhirnya aku tidak bisa melawan persahabatan.

Aku Kania, 19 tahun. Entah kenapa cintaku kali ini jatuh pada orang yang salah. Mungkin inilah akhirnya jika cinta melawan persahabatan.

Cinta akan kalah. Sekalipun menang, aku tidak yakin, aku akan mampu menatap sahabatku dengan mata bahagia. Aku tidak tahu, sebesar apa luka yang telah kuukir di hati sahabatku.

Aku Kania, 19 tahun. Mencintai dia, PACAR dari sahabatku. Inilah kisahku...