Jumat, 26 April 2019

Elang - Kasih Tak Sampai (Part 1)

Part 1


"Pokoknya gue titip Elang sama lo Ka. Kalau dia berani main cewek di belakang gue, lo harus jadi orang pertama yang kasih dia pelajaran." Aku mengangguk dengan berderai air mata.

Sahabatku Calistha, yang sudah kukenal selama 6 tahun terakhir, akan melanjutkan kuliah di negeri paman Sam. Dengan segala keterpaksaan, ia pergi meninggalkan keluarganya, aku, dan Elang, pacarnya. 

Sedikit bercerita tentang kami. Aku dan Calistha berkenalan saat masih duduk di bangku SMP. Kami begitu saja menjadi dekat, meskipun berbeda kasta. Ya, Calistha lahir dan besar di keluarga kaya. Bisnis ayahnya menyebar di berbagai kota di Indonesia. Jadi wajar, kalau tuntutan untuk meneruskan studi ke luar negeri harus dipenuhinya.

Sedangkan aku, hanya berasal dari keluarga biasa. Ayahku hanya seorang pegawai biasa, dengan gaji yang biasa, kehidupan yang biasa, dan masalah yang biasa orang biasa alami. 

Menginjak kelas VIII, Calistha berkenalan dengan seorang yang cukup berada juga. Namanya Elang. Tajir melintir sudah pasti, tampan tidak perlu diragukan. Tapi yang lebih pasti, mereka berkenalan atas dasar bisnis ayah mereka. Syukur-syukur, cerita cinta mereka tidak serumit yang ada di sinetron.

Aku, Calistha, dan Elang melewati suka dan duka bersama. Entah kenapa, aku bisa jatuh diantara dua insan yang sedang kasmaran ini. Yang jelas, diantara mereka, aku tidak merasa seperti obat nyamuk. Layaknya persahabatan biasa, hingga aku terkadang ragu, apa benar mereka adalah sepasang kekasih?

Panggilan untuk para penumpang sudah diumumkan. Tangisku dan Calistha semakin pecah. Elang, sedari tadi hanya diam memandang separuh hatinya yang hendak pergi itu. Matanya hanya berkaca-kaca, tanpa ada bulir air mata yang jatuh.

Aku dan Calistha berpelukan untuk yang terakhir kalinya saat itu. Begitu juga Elang. Yang meskipun tersenyum, aku tahu bahwa ia pun pasti sangat sedih.

Lalu Calistha pada akhirnya pergi. Selepas melepas kepergian Calistha, aku dan Elang langsung beranjak pergi meninggalkan bandara.

Sepanjang perjalanan pulang, tangisku masih belum juga mereda. Aku sangat menyayangi sahabatku itu. Dia sahabat terbaik yang pernah aku punya. Makanya kesedihanku ditinggal pergi olehnya, sulit untuk dihilangkan.

"Mau nangis sampe kapan sih lo?" tanya Elang sambil mengemudi.

"Lo sebenernya pacarnya Calistha bukan sih? Ceweknya pergi kayak ga ada sedih-sedihnya."

"Ya gue juga sedih, tapi kalopun nangis gue ga akan bisa merubah keadaan kan? Toh Calistha juga bakal balik."

"Ya tapi kan hari-hari kita bakal beda tanpa Calistha!" Tangisku kembali pecah.

"Serah lo deh Ka." Kata Elang cuek.

Hahhh, saat itu aku tidak bisa membayangkan, seperti apa hidupku tanpa si bawel Calistha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar